Showing posts with label PhD Life. Show all posts

Barusan ada temen yang nge share berita dari KBS tentang kasus penipuan beasiswa . Aku nyebutnya "Beasiswa Pinokio". Korban...



Barusan ada temen yang ngeshare berita dari KBS tentang kasus penipuan beasiswa. Aku nyebutnya "Beasiswa Pinokio". Korbannya ya jelas dong mahasiswanya yak. Terus mahasiswanya ngaduh ke Media. Lalu terexpose kasusnya. Di kasus ini, salah satu mahasiswanya ada yang dari Indonesia. Hmm... sebenarnya kasus yang seperti ini bukan hal baru lagi. Dan aku yakin, ini gak cuma ada atau terjadi di Korea aja. Catet: gak cuma di Korea aja. Uda banyak kasus yang serupa/mirip sebelumnya, cuma gak sampe ke media begini (atau mungkin pernah sampe ke media, tapi kemudian terlupakan).

Sumber: KBS News

Curhat: Tahun 2013 aku juga salah seorang contoh mahasiswa penerima beasiswa dengan skema yg sama untuk program S2. Dinjanjikan memang akan dapat 600K won per bulan untuk biaya hidup aja (gratis uang kuliah). Waktu itu masih setara dengan 6juta rupiah. Dulu, biaya hidup di Seoul segitu cukup-cukup aja. Dan aku bisa survive hingga selesai S2, malah sekarang lanjut S3 dengan skema beasiswa yang sama. Tapi, kemudian pelan-pelan beasiswa ku ini nambah, dan sekarang bisa boyong istri. HEYYY... tapi itu sekitar 5~6 tahun yang lalu. Sekarang? Seharusnya seminim-minimnya 800K won (sekitar 9,5juta rupiah) per bulan per kepala dengan life style yang pas dan seadanya, menurutku. Jadi, kata kunci "gaya hidup" di sini penting! Apalagi mau bawa istri/keluarga dengan beasiswa segitu? Gak usah nekat!!!

Kasus beritanya gimana: Ini tulisan temanku, di wall facebook-nya. Baca screenshot-nya aja yak muehehehe.. Tapi pada intinya si mahasiswa merasa jadi korban penipuan. Karena jumlah beasiswa yang dijanjikan supervisornya waktu wawancara gak sama dengan yang dia dapat begitu dia mulai program studinya. Kasus yang seperti ini biasanya terjadi untuk kita yang ambil skema beasiswa profesor. Kita gabung di lab nya, lalu kita kerja dengan dia karena dia butuh mahasiswa untuk ngerjai projek-projenya atau untuk cari projekan baru. Ngerti dong ya skemanya kenapa kita nyebutnya beasiswa profesor dan gimana kita bisa dapat beasiswa? haha

Komentar dari tulisan temenku ini pun beragam. Kebanyakan merasa prihatin dengan kasus seperti ini. Tapi kalau aku pribadi masih mempertanyakan, kasus ini sebenarnya tahun berapa terjadinya? Kalau sekitaran tahun 2013, aku pikir 600K won per bulan untuk living cost untuk program S2 masih wajar sih. Karena di tahun itu, temen-temen seasramaku dulu 5 orang dari China nyatanya cuma dapat 550K won per bulan di awal-awal kuliah. Mereka ambil program integrasi S2-S3. Begitu mereka masuk di tahun-tahun studi S3, nambah jadi 2~3 kali lipatnya.

Mengapa bisa kejadian seperti ini?: Ini opini ya, dari awal kita memang uda harus cerdas pilih program dan skema beasiswa. Apalagi sekolah di negeri orang dengan skema beasiswa seperti ini. Beasiswa ini masih berasaskan TRUST antara kita sebagai calon mahasiswa dan calon supervisor kita! Seharusnya ada dokumennya / sertifikatnya. Cerdas dalam artian: jumlah beasiswa yang kita dapat cukup gak untuk hidup hari-hari per bulan (kebutuhan primer: kosan, makan, asuransi kesehatan), harus bayar uang kuliah lagi gak, untuk jajan sedikit bisa gak, dan masih banyak lagi pertimbangan. Kalau kebutuhan primer gak cukup, apalagi kalau jumlah itu belum termasuk uang kuliah, ewwwh...pertimbangkan untuk cepetan ninggalin kesempatannya! Karena sama aja bo'ong kalau kita kuliah pake "beasiswa", tapi masih kepikiran: "makan utk bulan depan gimana ya?" Jadi harus benar-benar dipastikan dgn si pemberi beasiswa (calon supervisor). Kalau seandainya begitu sampai di negara tujuan dan sekolah, tapi ternyata komunikasi di awal berbeda dgn kenyataan, alias supervisornya bohong, pikir lagi untuk stay atau cepet-cepet deh cari prof lain. Kecuali kita punya side opinion atau punya uang lebih hehe.

Tipsnya apa?: Di Korea, model beasiswa seperti ini masih sangat umum. "Kuliah, sambil ngulih" istilahnya. Kuliah aja uda susah, harus ngulih lagi dengan gaji yang minim? Mau? Jadi kalu mau ambil skema beasiswa yang seperti ini hati-hati ambil keputusan. Gak cuma di Korea ya, tapi bisa dimanapun, termasuk Indonesia. Mainkan kalkulatormu. Cari info biaya hidup per bulan di negara dan daerah/lokasi/kota dimana kampus berada. Lalu pertimbangkan lagi keputusan yang mau kamu ambil. Karena kalau seandainya kasus ini terjadi ke kita, yang rugikan kita sendiri. Di Korea sendiri banyak kok skema beasiswa yang layak, termasuk beasiswa "kuliah, sambil ngulih" ini, kayak aqiqa hahaha. Sebagai mahasiswa Internasional di Korea, kita akan bisa dapat potongan biaya kuliah 50%~100%, yang kemudian akan dievaluasi setiap semesternya. Dan banyak juga kok mahasiswa yang Non-Science and Non-Engineering yang kuliah dengan biaya sendiri, tapi kemudian mereka sangat bahagia di sini. Karena bisa sambil part time. Malah mungkin gaji part time nya bisa buat dia nabung dan lebih tajir dari yang dapat beasiswa. Well, itu hiperbola sih wkwk. Poinnya adalah, cerdas-cerdas cari informasi beasiswa kamu dan ambi keputusanmu ya. Kasus seperti ini mudah-mudahan jadi pembelaran kita semua.


Kali ini, aku mau bahas, kehidpuan nyata seorang mahasiswa PhD itu seperti apa. Setelah sebelumnya aku uda bahas pro dan kontra nya men...



Kali ini, aku mau bahas, kehidpuan nyata seorang mahasiswa PhD itu seperti apa. Setelah sebelumnya aku uda bahas pro dan kontra nya menjadi seorang mahasiswa PhD, ditulisan ini aku mau bahas lebih sepesifik lagi kehidupanku sebagai seorang PhD.

So, what PhD life is really like?
Hmmm.... again, ini adalah salah satu pilihan hidup yang seharusnya merupakan pilihan hidup terbesarku. Jadi, kalau kamu pada akhirnya memutuskan untuk lanjut studi ke program PhD, bersiaplah untuk menghadapi "Pujian" dan "Dugaan" atau bahkan "Ujian" dan "Judgement". Misalnya apa? misalnya adalah pertanyaan berikut:

  1. Oh really? wowww.... kamu pasti sangat pintar? 
  2. Ya ampuuun... Jadi nanti gelar kamu apa? Doctor?
  3. Gileeeh,,, Kok bisa sih kamu pinter banget sekolah sampai S3?
Apapun pertanyaan yang mereka kasih ke kita (kita? Maksudnya aku) jangan hiraukan deh. Biarkan aja. Kalo mereka memang yakin kamu pinter, Aminin aja. Semoga kamu jadi insan yang berguna bagi banyak orang karena kecerdasanmu. Kalau orang tanya kayak tipe pertanyaan nomor 2, iyain aja, karena mereka cenderung basa-basi ajahhh... Yang tipe pertanyaan nomor 3, doakan aja supaya doanya yang mendoakan kamu menjadi pinter banget sekolah itu terkabul. Yakin atau enggak, mereka pada dasarnya cuma sekedar amaze, but dont really care to what happened to us. 

Kalau kamu sekarang sedang menjalani kehidupanmu di dunia PhD, semangat bertempur. Kalau kamu ngerasa sedang menunda-nunda pekerjaan dengan baca blog ini, keep calm cos I do the same thing when I write this page. hahah. Well, I am not here to judge, man, but let's face the truth, and I am now sharing what my PhD life is really like.

Gambar di atas menjelaskan apa isi kepala kebanyakan mahasiswa PhD loh.
Dan gambar di atas bisa menjelaskan banyak hal apa yang sedang dialami seorang mahasiswa PhD. Silahkan baca! 

Agak nyeremin memang, tapi itulah pilihan hidup. Rasanya asam kecut manis gurih!
Kita hidup di dunia ini juga mungkin kenyataannya akan lebih parah dari gambar itu, ya gak sih? So, jangan takut, jangan keder dulu untuk mulai. Kalo gak kuat, ya mulai lagi aja. heheheh

SUDAH TUA dan masih jadi MAHASISWA
Meeeen.... berat gak sih? mau ngapain coba kuliah lagi? uda tua juga? paling besok pas selesai PhD terus pensiun? #eh hahah. Maksudku adalah, kebanyakan mahasiswa PhD itu memang umurnya sudah cukup lanjut. Kebanyakan yak. Liat aja deh di Indonesia, kalau orang PhD dan umurnya masih 28an atau 30an awal, pasti mereka terus SHOCK! Ngaku-ngaku aja deh lo ke orang lain. Jadi kalian bisa nge-prank-in orang-orang aneh itu. PhD di usia muda kok shock, yakan? Dan kalau di Indonesia nih ya, mahasiswa PhD itu dianggap uda dewa. wkwkwk... gak lah. Maksudku uda dianggap pinter ngetts dan berduit. Apalagi kalau kuliahnya di luar negeri. Padahal pake beasiswa juga, yang notabenenya untuk orang-orang yang kurang berduit muehehehe #mupeng. Karena memang sekolah PhD itu mehong boyyy. Tapi tau gasih kalau kenyataannya justru terbalik 180 derajat kalau kalian ada atau kuliah di luar Indonesia. Contoh di Korea aja deh. Yang mau kuliah S3 itu lumayan banyak. Umurnya mudah-mudah. Dan mostly mereka nyebut karena mereka harus bayar utang studi S1 mereka ke pemerintah selama 10 tahun setelah studi sarjananya selesai. Makanya mereka bela-belain untuk kuliah tinggi-tinggi untuk bisa dapat kerjaan yang lebih baik. Catatan ya, kalau mereka kuliah dijurusan-jurusan seperti Science dan Engineering, biaya kuliah mereka di atas kertas memang lebih mahas dibandingkan jurusan-jurusan lain. Tapi mereka bisa dapat funding dari Kampus dan Laboratorium/professor mereka. Intinya sih ya sama, kami tuh perlu uang makanya sekolah. Aneh gasih? Aneh!

Hal lainnya adalah beberapa banyak mahasiswa PhD yang hampir dibilang "gak punya kehidupan" selain sekolahnya. Jangankan mikirin pacaran, malam mingguan aja enggak tau rasanya kayak apa, karena harus ngerasain stress dan anxious dulu untuk bisa ketawak hahahah hihihi.. Mikirin clubbing dan partying biar sama kayak waktu jaman Sarjana, boleh, tapi selalu ada kekhawatiran dengan Lab. hmmm....

Jadi, dengan memilih menjadi mahasiswa PhD, secara sadar atau tidak sadar, aku tuh udah memingit kebebesanku sendiri.

Apalagi bagi kita-kita yang uda berkeluarga. Mohon maaf dan berterimakasih banget deh ke keluarga yang mengerti kegalauan seorang mahasiswa Lab. Moody, dan jarang bisa punya waktu banyak untuk keluarga. Kalau keluarga kalian suka ngambek karena kalian terlalu mementingkan Lab dan Sekolah, berarti keluarga kalian tidak mengerti apa yang sedang kalian perjuangkan, dan gimana rasanya berjuang sendirian demi keluarga. Sotoy gueh. wkwkwk... Iya dong yak, keluarga yang ngerti susahnya jadi mahasiswa pasti mau juga ngerasa sakit-sakitnya punya waktu bareng-bareng yang minim, gak punya banyak uang jajan untuk jalan-jalan, dan lain sebagainya. Mudahan bukan kalian, bukan kita.... :)

Level Kegantengan meningkat atau menurun?
Hanya Tuhan dan dirimulah yang tau. hahaha...
Bayangin, dengan level setres yang meningkat, mungkin bisa dibilang dekat ke tittik poin depresi (halah), bagaimana bisa nambah kegantengan ku? Tidur jarang tepat waktu, makan kurang teratur, olahraga hampir gak pernah, males geraknya yang diperbanyak, badan cendureng melebar ke samping, wajah penuh daki dan jerawat. hahahah Kok ini kesannya menderita banget yak?

nooooo... gak segitunya banget lah. Itu lebay itu lebayyyyy... Tapi I think you may understand, jadi mahasiswa itu kadang susah ngurus diri sendiri. Lupa diri dah bahasa gaulnya hahah, karena memang load kerja otak itu lebih banyak dari orang pada umumnya. Kalian bisa bandingkan orang yang sudah bekeerja mapan dengna mahasiswa mapan, mana yang lebih bahagia? Orang yang punya banyak uang dong yg lebih bahagia yak. heheh...

Intinya gitu deh.
Pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan diri kita itu akan seperti apa, iya gasih?
Kuliah atau enggakpun kalau memang gak ganteng, ya tetep aja jelek.
Dan kuliah tinggi itu bukan menjanjikan kita untuk punya banyak uang, tapi menjanjikan kita pada pilihan-pilihan hidup yang lebih luas. Apalagi setelah kita dapat degree. Pasti akan ada rezki yang lebih baik.

Aku tutup tulisan ini dengan SEMANGAT MAHASISWA... muehehe :D

Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang...





Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang mahasiswa PhD hehehe...

----------------------

Pro sebagai PhD Student
  1. Kalau kamu senang dengan sebuah titel atau embel-embel gelar di belakang namamu, nah menjadi seorang PhD, kamu akan dengan bangga menggandengkan gelar Dr. namamu atau Namamu, PhD. Di dunia profesional (pekerjaan), gelar ini menjadi magnet yang canggih. Kedengarannya terlalu cetek memang, tapi banyak yang memang suka membangga-banggakan gelar Dr atau PhD nya. Kamu mau gak? hihi
  • Dengan menjadi seorang insan PhD (#tsaaaahh... Insan) kebanyakan kita akan menjadi cukup kuat dan tangguh secara mental dari semua tekanan, kritik, dan bahkan ejekan orang lain. Hal ini bisa diuji dengan beragam macam kritik dan penilaian skeptis terhadap kerjaan atau research seorang PhD Student. PhD adalah ladang amal untuk kita sendiri hahaha.. tapi memang harus bermental baja. Susah memang kalau terpaksa harus sering-sering menjadi manusia yang baperan. Aku udah ngalami kok waktu aku ngerasa down banget dengan kerjaan lab ku. Tapi kemudian aku sadar, aku belum siap untuk mendapat kerjaan yang baik.
  1. Kamu akan belajar banyak hal. PhD pada dasarnya adalah tentang belajar. Dan menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu akan belajar banyak hal, you will learn tons of things!!!! Tidak harus melulu tentang riset, kalau kamu mau dan bisa memanage waktumu, tapi segala hal yang tujuannya untuk mempersiapkan dirimu menjadi manusia yang banyak pengetahuan. Jika kamu benar-benar belajar selama PhD, kamu akan memperoleh banyak hal di luar dari sepesifik disertasi dan bidang penelitianmu, misalnya critical thinking, independence, and time management. Now you see... research skills need an advanced degree.
  • Tergantung dari siapa pembimbingmu. Kamu bisa melakukan dan menyelesaikan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa PhD dimanapun dan kapanpun. Jadi untuk beberapa orang, menjadi seorang mahasiwa PhD itu sangat flexible. Karena kamu memang dituntut untuk memiliki kemampuan time management yang baik. Hal ini sangat menyenangkan pasti. Misal, sambil jalan-jalan kamu bisa nyambi ngerjain kerjaan Lab mu mueheheh.. gueh pun mahuuuu!
  1. Bidang studi dan riset yang semakin fokus. Jelas banget ini mah, kalau kamu menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu hanya dihadapkan pada satu spesifik bidang penelitian saja. Dan sepanjang PhD mu, kamu akan hanya benar-benar belajar dan mendalami topik penelitianmu. Makanya, pastikan kamu sudah memutuskan dan memastikan topik yang akan kamu kerjakan nanti menyenangkan untukmu. Dengan begitu, kamu bisa mendorong kemampuan terbesarmu untuk menemukan innovative solusi dan berimpact besar untuk bidang penelitianmu.
  • Gobal perspective. Dengan menjadi seorang PhD student, kamu akan melihat dunia dengan perspective yang berbeda. Kamu akan belajar bahwa semuanya perlu data dan otakmu akan terlatih untuk berbicara banyak hal berdasarkan fakta. Data! Selain itu, daya analisismu juga akan berkembang terhadapt bidang apapun. Karena kamu akan terlatih untuk selalu skeptis pada kebanyakan hal.
  1. Interkasi dengan dunia akademik yang semakin luas. Kamu pasti bisa menjelaskan hal ini berdasarkan perspektifmu sendirikan? Menjadi mahasiswa PhD akan memberikanmu kesempatan yang luas untuk benar-benar menikmati enak-enggaknya dunia akademik. Enaknya ya jelas, kamu akan punya kesempatan untuk belajar banyak hal dari orang-orang yang memiliki bidang yang sama dengan penelitianmu (misalnya), kamu punya kesempatan untuk menjajal forum-forum diskusi internationally, dan kalau kamu beruntung, kamu bisa keliling dunia sambil belajar. Hmmmm..... 

    Cons sebagai PhD Student
      • Yang paling terasa menurutku adalah kamu akan memiliki support funding yang minimal deh selama menjadi mahasiswa PhD. Dalam hal keuangan, PhD student akan hidup dengan life style yang serba pas-pasan. Oooh... kamu mungkin bisa juga dapat beasiswa dari kampus atau dari sponsor-sponsor yang lain. Tapi percayalah, kamu tidak bisa menjanjikan dirimu akan dapat uang yang berlimpah dibandingkan teman-temanmu yang bekerja di luar.
        1. Tekanan hidup yang tinggi. High level stress in life everrrrrr muehehe... Dan itu kayak endless. Kalau kamu gak siap dengan pernyataan atau penjelasan ini, ya kamu baca ajalah biar kamu tau. Yang penting sekedar tau. hahah.. Jadi, mahasiwa PhD itu mendapat tekanan mental dari segala sisi: tekanan diri sendiri (misal target riset, target tabungan, target nikah, target haji, target sukses, target mati #EH), tekanan dari profesor atau pembimbingmu atau senior-senior mu di Lab (karena harus publikasi paper, misal setahun 2 paper, atau karena projek lab mmmanyak jadi terus bertarung dengan dealine projek dan riset tiap minggu), tekanan mental dari keluarga (kalau kamu sudah nikah ini akan terasa banget, menjadi mahasiswa PhD full time butuh tingkat fokus level tinggi, kalau di rumah ada problem, kemungkinan besar akan ngefek ke kampus dan risetmu, gitu juga sebaliknya), tekanan dari sosial (ditanya kapan lulus, kapan nikah, kapan publikasi paper, kapan jalan-jalan, dsb. Dan kamu hanya bisa bilang F**K lah wkwkwk), tekanan ekonomi, tekanan kesehatan, dsb lah...
          • Kemungkinan besar, kamu akan sangat susah untuk memiliki waktu ngehedon... dan siap-siaplah untuk dijauhi dari teman-temanmu. Percayalah sama gueh.
            1. Sometime, your research is just too hard to do, needs more time and hard work with unclear results. Kadang kerjaan PhD itu diibaratkan ngerjain sesuatu yang abstrak. Terlalu banyak berasumsi dan berhipotesis hanya untuk nemukan sebijik ide. Dan itu bisa berhari-hari mikirinnya. Udalah di lab kena marah profesor, di rumah tidur gak enak pulak, dicemberutin istri lagi #EH.. hahah Hajablah.. wkwk
              • No boss, no working time. Kamu harus siap mental untuk ini. PhD itu harus benar-benar mandiri. Prof mu kadang susah untuk bertukar pikiran. karena dia punya kesibukan sendiri. Anyway, this is not good for everyone for sure. Bahkan kamu tidak sadar kalau kamu hanya bengong seharian with no results. Dan gak sadar tau-tau uda sebulaaaan aja tanpa ada hasil apapun. Nangis!!!!!
                1. Love life. By now, you should've realized that science and love rarely walk together. Your life is only for your life at school ***not love! Bersiap-bersiap orang yang paling kamu kasihi juga akan kabur dari kehidupan nyatamu. Mudah-mudahan bukan kita. Tapi ada banyak cerita dan kisah yang pada akhirnya harus divorce atau break dari pacarnya. Karena yang jadi mahasiswa PhD itu kadang egois banget dengan diri sendiri dan Lab atau kehidupan sekolahnya. Sementara pacarmu nuntut selalu untuk jalan-jalan dan nge date di pinggir empang! Ta*k banget kan? Banyak orang yang susah ngatur love and your real life as a student. Just be ready OKAY! Intinya kalau putus, ya pokoke kamu tau aja kalo dia bukan untuk mu dan in the nearly future, dia akan sadar kalau kamu better than his boyfriend. haha...
                • Banyak waktu kamu akan menjadi lebih melankolis. Apalagi waktu kamu sadar uda sebulanan kamu belum punya results. Deng deng deng..... #Musik horor... Pas kamu gak punya kerjaan, dan gak punya hasil apapun, rasakanlah neraka dunia akademik. Hidupmu seolah-olah ntah jadi apa.... sometime you do feel like a lazy idiot guy! Again, just be ready and make sure you wont be in that position.

                  ----------------------

                    Gitu deh kalau menurutku. Oya, kalau kamu punya cerita sendiri dan pandangan sendiri, monggo tulis dikotak komen ya. Panjang juga gapapa... Aku sering kok kabur dari kehidupanku sebagai mahasiswa ke halaman blog ini. Kadang cuma untuk baca tulisan aku lagi dan nemuin ada yang error di tulisanku. wkwkwk. 

                    Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisa...

                    Phd Student



                    Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisan ku yang ini: Beberapa Pertimbangan sebelum Kuliah PhD Gratis




                    Di halaman artikel itu, aku juga sempat jawab dan jelasin alasanku mengapa aku memilih kuliah sampai ke jenjang S3. Bukan pertimbangan yang singkat, bahkan ketika aku sudah mulai menjalani program S3 ku, tantangan untuk memotivasi diripun terkadang juga berkurang. Nah, ditulisanku itu, aku jawabnya begini nih:




                    Jadi karena komen dan pertanyaan ini lah aku membuat tulisan khusus yang akan menjelaskan beberapa alasan general mengapa kamu harus sekolah sampai S3. Seperti yang sudah dituliskan juga oleh seorang penulis artikel untuk kategori PostGraduate Articles, Lucinda Borrell, bahwa menjadi seorang mahasiswa atau memilih menjadi seorang mahasiswa S3 adalah sebuah perjalanan hidup yang penuh tantangan, butuh keberanian untuk tetap bisa survive, dan sebuah pilihan hidup yang cukup panjang di dunia akademik. Jelas dong ya, kehidupan seorang mahasiswa PhD itu hingga mendapat gelarnya bisa mencapai 3 - 7 tahun. Well, normalnya di kebanyak negara, jenjang penyelesaian S3 itu 3 tahun, tapi negara-negara seperti Korea, China, dan beberapa kampus di Jepang dan Jerman untuk program studi Engineering, program PhD biasa ditempuh paling cepat 4 atau 5 tahun. Itu normal loh. Bahkan ada dan sebenarnya cukup banyak yang sampai 7 tahun. Lebih panjang dari masa kuliah zaman S1 kan? atau bahkan kalau memang harus molor, bisa jadi sama dengan atau bahkan lebih lama dengan zaman sekolah SD kamu. So, if you come to this decision, you have to make sure that PhD is something that you really want. Not because somebody pushes you to do so. It might be really so damn hard if you know that PhD/research is not your passion!

                    Oleh karena itu, kalau kita kuliah S3 di Luar Negeri, kita tuh justru dibayar, bukan kita yang bayar kuliah (walau dibayar murah ya muehehe). Well, kind of dapat bayaran dueh. Let's say, kehidupanku di Korea yang sekarang, sebagai mahasiswa PhD di Computer Engineering Department. Aku kuliah ikut Lab seorang professor di Kampus Kwangwoon University. Aku melakukan research, publikasi, dan belajar di kampus (tepatnya di Lab) yang memiliki funding. I don't think I want to do such job if I don't get any funds. Karena berat kerjaannya. Jadi, secara financial, memang ketika kita masih seorang mahasiswa, ya kita itu ibara kuli murahnya Lab-lab. hehehehe.. demi sebuah degree kok ya mau banget tersiksa hidup, gitu kan yak? Tapi itu tadilah yang namanya passion, ada satu hal yang gak tau gimana jelasinnya mengapa banyak orang sangat mengidamkan kehidupan seperti ini. You cannot say NO if you passionate on it. Really!!!! Jadi kalau kamu memang benar-benar ingin menikmati hidup yang penuh tantangan begini, then you should do it for the right reasons.....

                    1) Kamu ingin bekerja dan menjadi seorang expert pada bidang penelitian tertentu

                    Aku kok masih percaya, kebanyakan orang yang memutuskan untuk kuliah S3 adalah karena mereka ingin bekerja pada spesifik bidang tertentu dan expert dibidangnya. Alasan ini masih mejadi alasan terkuatku mengapa aku juga masih pingin lanjut kuliah. Banyak mahasiswa PhD yang masih betah berlama-lama di bangku kuliah ya karena mereka memiliki passion untuk meneliti. Meneliti dibidang-bidang tertentu dan mereka ingin menghabiskan waktu mereka hanya untuk meneliti bidang itu. Mereka bahkan mungkin percaya bahwa mereka akan menemukan sesuatu jika mereka terus-menerus melakukan penelitiannya.

                    Kesimpulannya adalah, bahwa satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup seorang mahasiswa PhD ketika mereka pada akhirnya bisa melakukan penelitian mereka sendiri dan menghasilkan sebuah penelitian atau teori baru yang memang memiliki manfaat atau impact yang besar bagi kehidupan orang banyak. Inilah salah satu bentuk kontribusi mereka sebagai seorang peneliti. Jika pekerjaan mereka bener-bener menarik, banyak orang baik peneliti-peneliti di lingkungan akademik maupun institusi penelitian lainnya bahkan akan tertarik juga untuk mengetahui penelitiannya. Dan ini menjadi hal yang sangat membanggakan bagi diri seorang mahasiswa di sepanjang karir PhD nya. Yeaah.. I will definitely say so.

                    2) Untuk Log-term karir

                    Beberapa mahasiswa PhD juga mendambakan sebuah karir yang panjang begitu mereka bisa memiliki gelar S3. Jelas dong, mereka sudah bekerja begitu lama untuk sebuah karir yang lebih baik. Jadi jangan disalahkan juga jika kebanyakan mahasiswa S3 memeiliki harapan jenjang karir yang memang sangat tinggi. Setinggi langit di surga. Tapi, percayalah, kebanyakan dari mereka memang sudah benar-benar merasakan dan sangat berpengalaman dengan banyak hal yang menantang untuk sebuah karir di dunia pekerjaan. Walaupun tidak semua mahasiswa PhD berharap bisa bekerja dibidang yang sama dengan bidang penelitian mereka waktu PhD, namun dengan gelar PhD mereka bisa memiliki banyak pilihan karir yang baik dan panjang.

                    3) Untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan menantang ilmu pengetahuanmu

                    Beberapa juga berpendapat bahwa menjadi seorang PhD artinya memiliki wawasan dan pengetahuan yang jauh lebih matang dan luas dari kebanyakan orang yang tidak. Ini cukup bisa dipercayai sih kalau menurutku, karena memang mahasiswa PhD secara natural dibentuk untuk mengetahui sesuatu hal yang lebih dalam dan spesifik. Namun perlu menjadi catatan, seorang PhD Kimia tidak akan tau banyak tentang dunia Komputer misalnya, karena mereka bukan belajar dan meneliti di bidang ilmu komputer. Tapi tanyalah mereka di bidang mereka, engkau akan terkesima!!!!

                    4) Kenikmatan mempelajari satu bidang tertentu

                    Hmmm... yang satu ini aku kira sangat jelas adanya hehehe.. Hidup kalau tidak bahagia ya susah ngejalaninya. Jadi jika kamu memang berniat untuk lanjut kuliah di dunia PhD, pikirkanlah bahwa kamu memang akan senang melakukan pekerjaan dan penelitianmu. Ini menjadi poin yang sangat penting bagi seorang insah PhD.... #tsssaah... Karena kamu akan memiliki kehidupan yang intense dan mungkin cukup monoton selama 3 - 7 tahun kedepan. Tanpa passion dan kesenangan dalam melakukan pekerjaanmu, kamu akan merasa cukup berat dan ngedumeul jaban hari... hehe

                    5) Kamu senang dunia akademik

                    Dari semua alasan di atas, satu yang pasti dari seorang mahasiswa PhD adalah karena mereka memang senang dunia akademik. Well, dunia akademik itu bisa saja karena penelitian, belajar dan kemudian mengjarkan ilmunya, dan juga berkontribusi dan berbagi ke banyak orang. Ini menjadi ajang untuk mendemosntrasikan kemampuan intelektual para teman-teman PhD. Jadi, jika kamu senang di dunia akademik, mulailah jajaki, kamu tuh senangnya di bidang akademik yang mana, senang di penelitian apa, dan kedepannya kamu ingin menjadi expert apa. Empat hal yang aku sebut sebelumnya, semua berfondasi dari alasan ini, karena mereka senang dunia akdemik.

                    Bagi kamu yang sendang mikir-mikir untuk lanjut studi ke program PhD atau tidak, silahkan baca juga tulisan ku yang lain ya: Cerita Perburuan PhD Gratis, Several Things You Should Know about How To Publish a Publication, dan What Should We Do in the Very First Minute of the Day Activities?



                    I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then...

                    I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then I found an article called ‘How the Most Productive People Start Their Work Day’ from greatist.com. It is true that what we do when we are starting our day to get to the office sets the tone for the rest of our day. I usually get bored with works that I even don’t know which, what, and how to start first with. Learning how to make priority on what I will do first might help me to run away from non-concentrate condition.

                    The article tells me that a to-do list activity can improve our productivity in a day. In this state, a to-do list is a map for one full-day that we’ve drawn it every night before bedding. And mostly people will do an email checking for the very beginning activities. And that’s a huge mistake, says Julie Morgenstern in her books called Never Check Email in the Morning. But the same with me, I am doing it every day before I know that what I have done is wrong. The only reason is due to checking email is a reaction needed activity. That means that once we open an email, we will need extra time to read, or even to write text in order to reply it. So the real question is: What exactly should we be doing? To get answers, greatist.com asked super successful people killing it in business, fitness, and life in general what they do to be productive (and resist the siren call of their inbox) the second they step foot into work. The following information is the answers from those successful people quoted from greatist.com:
                    1. Trap your anxieties on paper.
                    “The first thing I do when arriving at 'work' (which is usually my wooden table next to a living wall in my house) is journal. I use a notebook like The 5-Minute Journal to clarify my goals and priorities for the day, as well as perform a basic gratitude exercise. If I'm feeling ambitious, I'll drink pu-erh tea [a type of fermented dark Chinese tea] and free-associate for another two or three pages in a separate notebook. This often allows me to trap my anxieties on paper so I can be more productive with less stress throughout the day.” — Tim Ferriss, author of The 4-Hour Workweek and host of the podcast The Tim Ferriss Show

                    2. Get your energy up with some movement.

                    “The first thing I do is take a walk. (We just got a new puppy!) Then I spend the next hour checking all my social media. I know experts advise that we don’t waste our morning alertness on low-value work like email and checking Twitter, but I know that I can’t focus on more challenging work until I’ve checked in on all the various forms of communication.” — Gretchen Rubin, author of The Happiness Project and Better Than Before

                    3. Go over your to-do list.

                    “The very first thing I do—even before I power on my computer—is enjoy a cup of coffee while reviewing my to-do list, which I make before going to bed every night. This helps me get pumped and organized. After that, I’m ready to take on the day!” — Joy Bauer, R.D.N., nutrition and health expert on NBC’s Today Show and founder of Nourish Snacks

                    4. Do quick check-ins with team members.

                    “The first thing I do is say a quick hello and check in with one or two members of my team. It's important to me because it helps me start the day on a happy, positive note, and it lets me take the temperature of our group. Plus, it's a good thing for overall productivity as creative teams run on good personal relationships and positivity. And in the event something is off or tense, it gives me a chance to find out what's up before things go off the rails. Mostly, though, I just do it because I enjoy it. I am lucky to work with great people who are a lot of fun to be around.” — Pilar Gerasimo, founder of Experience Life magazine and author ofBeing Healthy Is a Revolutionary Act

                    5. Complete the task that requires the most mental focus.

                    "I pour a cup of coffee and get to work writing. I'm fierce about not letting anything interrupt that time. I write for two or three hours and then go to the office for meetings or teaching or student appointments. If I write every day, even for just an hour, there's a momentum that works for me. I can just pick up where I left off. I don't write quickly, but the consistency makes it all add up.” —Marion Nestle, Ph.D, professor of nutrition at NYU and author of forthcoming book, Soda Politics

                    6. Make (and use!) a really effective calendar.

                    “The first thing I do in the morning is check my calendar. It is far more effective than a to-do list. This approach radically reduces the number of decisions I have to make every day because I don't have to decide what to do. I just do it. The calendar also has something called buffer days where I handle small things, focus days where I do things that matter the most, and free days where I do whatever I feel like that isn't work. This is the only way I've found that makes sure I get time for myself, for family and friends, and for my company.” — Dave Asprey, creator of Bulletproof Coffee and author of the forthcoming Bulletproof: The Cookbook

                    7. Hydrate... with a kick.

                    “We have a morning trifecta that works like a charm each day to make us feel alert, connected, and energized as soon as we hit the office. First, we always check in with our team, face-to-face. This interaction in the morning grounds us and connects us to our purpose as a united, productive team. Second, we prep our desks with huge mason jars of water. That way, once we sit down, we can be productive without interruption. Plus, getting hydrated first thing in the morning gives us energy and keeps us healthy. Finally, we sip on a little caffeine, like coffee or tea, for a little boost.” —Kirsten Potenza and Cristina Peerenboom, creators of the POUND workout and the POUND Rockout Results System

                    8. Express gratitude for who (and what) is working.

                    “I like to start my day with a little gratitude. I walk all the way through the office to the kitchen at the back and say hello to the people on my incredible team, making sure to let each one know how much I appreciate them!” — Kathryn Minshew, founder and CEO of The Muse


                    What about you…? I am not sure if there is any people who read my blog. But, anytime you cross by to this page, would you like to share what you do in the very first day of yours? Please write your story in the comment.








                    Genap setahun sudah,, setelah tulisan ini dibuat. The thing that I want to write down here is about my story in writing a paper. Again,,,...


                    Genap setahun sudah,, setelah tulisan ini dibuat. The thing that I want to write down here is about my story in writing a paper. Again,,,, Yeaah.. As you might have already understood that as a student, academician, or researcher, publications are the most important thing to have. It is about to publish what we have worked or researched about to a publisher. The publication that I mean could be book, journal publication, proceedings or conference paper, standardization document, or even patent. Maybe I will discuss them one by one later. The better publisher which our publication will be published the harder and the more difficult the processes are...

                    This paper is so special. It was my first research topic which its story has been written here. The things that make me kinda feeling blessed are the processes till I achieve an 'Acceptance' notification from the committee? / editor? / reviewer? whatever. I think I should have understood this better for now on. Totally I spent about a year following the whole processes. Probably it is due once I submitted my revision manuscript in the first review session quite late.

                    Well, in general, there could be several steps or processes that we should follow till a decision either a rejection or an acceptance is given. Once we finished in drafting manuscript with fully and properly prepared, we should submit the paper to the committee. Either it is just a conference, proceedings, or even journal. And either it will be submitted completely through schematic system submission or just by sending the manuscript to the committee email. Then, we (all authors written in the manuscript usually) will get a notification that our paper has successfully submitted to the journal we intended to send. In this email notification, we will get several information, but the most important to be noted is how long our paper will be reviewed by several reviewers. For this state, the committee will send our manuscript to several experts and ask them to review our submitted paper. A far as I know, that could be what so-called 'A blind review' which means that our paper will be blindly reviewed by two or more experts that has expertise related to the topic as our manuscript. And of course, it will take several weeks or even months in reviewer hands. So, our first email notification will tell us how long it will be reviewed till we get the second notification.

                    Once the paper finishes reviewed by reviewers, we will get a second email notification informing that either the paper still requires more cares (needs revision in Major or in Minor revision) or it could be a decision directly: rejection or acceptance notification. In this email, we will also get some comments from reviewers, and you should be so-ready if your paper is in a Major revision needed status. Bunch of comments will be written along the email text and sometime those comments will make you sick. I mean really sick. And you should very carefully read and understand those comments. However, one thing that you should keep in mind that any comment or any decision for our paper is good for its improvement. Remember, the reviewers are usually expert.

                    Once the paper is decided as one that requires revision, it means that we should prepare the revised manuscript version which is prepared according to the given comments from reviewers. Don't forget to prepare a response note also in facilitating your response of all the comments. The response note will make easier reviewers to see what we have revised corresponding to the comments. So remember, prepare both the revised manuscript version and the response note in separate paper. Regarding Minor revision, usually committee will give us shorter time than the Major ones in re-preparing our manuscript revision plus our response note. The more major revision we get, the longer time the committee will give for us. Don't worry for this.

                    If everything has been well prepared, you need to resubmit all the required files to the committee again, and wait till another notification reaches you, and again it will be a decision or a revision needed. This notification will certainly depend on the revised manuscript and the response note you prepared. If you get a decision, either it is accepted or no, then this looping procedure ends. So that's why the procedure might take even more longer! Especially for journal or book publications. For conference or proceedings paper, you will get a very soon notification and decision.

                    In my case, I have to revise my paper three times. Two times for the major revisions and the last one is only the redaction matter, although it is not a big deal compared two other revisions, but it is still important. My first revision session was the hardest one. Very long comments I got from three reviewers, you know how sick I was in preparing this within one month. At first, I failed in completing all the revised manuscript, I mean I need another month for those comments, lucky me, my supervisor contacted the committee to ask more longer time. In fact that that was the first step review with long comments, so I think one month is a crazy time preparation. And so on and so on, till I got my acceptance notification.. Yeeeeaaaayyy..... I was about screaming loudly at the lab, yet I didn't. What a mess if I do so! hahaha... The whole processes are enjoyable for an experience though. You should have once! :p






                    Source image:    https://80000hours.org/ So, ini part lain dari cerita ngejer sekolah gratis dan niatnya adalah untuk bercerita lebi...

                    Source image:  https://80000hours.org/



                    So, ini part lain dari cerita ngejer sekolah gratis dan niatnya adalah untuk bercerita lebih dan berbagi kisah dari perburuan PhD gratis di tulisan sebelumnya. 

                    Ada satu hal yang mungkin bisa ku petik dari semua proses yang ada selama ini. Bahwa menjaga semangat itu sangat penting. Terutama untuk tipikal-tipikal orang kayak aku yang ngerasa gak ada apa-apanya dibanding mereka yang wah wah wah. Aku jelasin lagi nanti gimana caraku maintain semangat. Hal lain adalah bahwa menjadi a hunter itu mengajarkan aku untuk bisa agak disiplin sama waktu, karena kita harus tahu kapan beasiswa A akan dibuka lagi, dan apa yang harus kita persiapkan jauh-jauh hari. Menjadi a hunter itu mengajarkanku untuk belajar bisa memahami diri, memperbaiki diri, memantaskan diri, menghargai diri, dan rendah hati… #eeaak.. aku hatinya kerendahan sih memang, makanya hatiku ngarep pindah utk dekat ke hatimu.. #krik. The last but not the least adalah bisa belajar arti dari sebuah proses. Anyways…

                    Jadi begini, satu semester terakhir ini aku masih aktif sebagai mahasiswa Master. Prediksiku, aku bisa selesai lah disemester ini, gitu. Dan sambil lalu, aku juga mulai hunting beberapa kampus di luar Korea, dengan catatan penting kalau kampus-kampus yang ku idamkan ini punya research area yang sama, prof dan lab nya aktif untuk bidang penelitian itu. Nilai lebihnya adalah kampus-kampusnya di Eropa yang sepertinya lebih baik dari kampusku sekarang. Sepetinya gitu sih. Dan meraka adalah University of Nantes di France, Ghent University di Belgium, University of Tampere di Finland, Sheffield University dan University of Bristol di UK, Purdue University di Indiana-USA, serta beberapa universitas yang korespondensiku gak direspon seperti Queen Mary University of London di UK dan kampus di Italy, USA, dan Ireland. Itu aja kayaknya.

                    Well, semua kampus yang aku sebut tadi ku coba dengan proses yang sama. Cari informasi di google dengan keywork like: open position for PhD for video coding 2016 atau PhD Vacancies for video coding 2016 adalah hal pertama yang aku lakukan. Cara lain adalah dengan berlangganan atau subscribing advertisement job vacancies di Linkedlin, Research gate, atau forum-forum diskusi video coding lain. Beberapa professor yang butuh mahasiswa juga menyebarkan info atau advertisement tentang ini di sana. Jadi, kita tinggal setting subscriber kita aja di beberapa research field di linkedlin, research gate dsb. Setiap kali ada related info yang sesuai dengan bidang kita, kita akan dapat notifikasinya via email. Easy breezy bukan? 

                    Cara yang lain adalah aku cek satu per satu kampus di negara yang aku mau tuju, misal untuk kasus UK. Karena aku tahu kalau skema support funding di UK itu sama dengan di Malaysia, yang sifatnya lebih ke Grant funding, makanya aku berniat untuk kuliah pake beasiswa LPDP atau Mora scholarship dari Indonesia Government. Nah, untungnya kalau LPDP kan uda punya list universitas terbaik versi LPDP kan, jadi aku cari by university based on LPDP list. Satu per satu dicek, ada gak research video coding di kampusnya. Yang ini agak makan banyak waktu sih sebenarnya. Oh ya,, Grant funding itu maksudnya adalah kita bisa kuliah gratis selama lab dan professor kita punya project. Sebagian uang projek itu nanti akan mengalir untuk kita yang bisa dimanfaatkan untuk live and school expenses. Artinya selama ada projek, amanlah hidup kita. Kurang lebih begitu.

                    Butuh beberapa hari untuk ngelist nama-nama Professor dan lab serta kampus yang sesuai dengan research area ku. Next adalah mempersiapkan semua dokumen yang perlu disebar ke list yang ada. Standar sih dokumennya: CV terbaru, Transcript akhir, research statement, dan beberapa publikasi paper. Semua dokumen ini wajib aku attach bersama email yang aku kirim ke semua list yang aku punya. Well, selanjutnya buat template email dengan Bahasa yang hormat, singkat, padat, dan niat kita apa. Inti email yang aku kirim adalah bertanya tentang kemungkinan ada gak peluang PhD di lab dan kampus dia. Beberapa ada yang kasih response cuma dalam hitungan jam, beberapa merespon sampe dua-tiga harian, dan beberapa gak merespon. Kenapa aku lakuin ini semua? Karena aku mau maintain semangat yang aku punya. Di sisi lain, aku juga berharap ada keberuntungan di sana.

                    University of Nantes di France. Aku gak ingat ini kampus keberapa yang aku coba. Dan diskusi tentang pengalaman ini gak berdasarkan dengan urutan email ya.. Cuma intisarinya aja yang aku bahas. Jadi, ketepatan setelah googling dengan keyword yang aku sebut tadi, nemulah satu kesempatan dari Unviersity of Nantes. Kampus ini punya satu projek yang disebut dengan istilah Provision. Ini projek adalah semacam kolaborasi projek dengan beberapa kampus di Eropa kayak University of Bristol dari UK dan satu university di German, juga dengan Microsoft di China. Peluang ini emas banget sebenarnya, karena ada kesempatan untuk tinggal di German dan China beberapa bulan. Well, aku coba submit dan apply ini. Dan ada beberapa stage penyaringan untuk candidate PhD yang berminat, seperti document screening dan wawancara. Mereka (red: projek kolaborasi) punya beberapa list projek yang berkaitan dengan video coding dan University of Nantes sepertinya punya 4 atau 5 list projek. Tahap pertama adalah document screening. Di tahap ini, candidate cuma perlu kirim email dan kirim beberapa document kayak yang aku sebutkan tadi ke satu professor yang membutuhkan mahasiswa PhD di University of Nantes. Candidate yang dinyatakan lulus di tahap ini akan mendapat konfirmasi email untuk wawancara. Dan aku satu diantaranya. Ini adalah kali perdanaku diwawancarai demi sekolah PhD gratis. Kita (aku dan satu orang professor dari University of Nantes) ngobrol via Skype, dan aku harus mempresentasikan dua topik projek yang mereka tawarkan. Aku diagendakan dengan dua kali wawancara karena diwawancara pertama aku ngerasa gak siap untuk mempresentasikan satu topik projek yang ada. Tapi professor nya menyetujui permintaanku dengan mengagendakan jadwal wawancara lagi seminggu setelah wawancara pertama. Singkat cerita, wawancara ini sukses dan berakhir dengan email konfirmasi kelulusan dan kapan aku harus berangkat ke universitas tersebut serta gaji per bulan dan sebagainya. Kendalanya adalah projek dimulai terlalu dini, sementara aku belum menyelesaikan master ku waktu itu. Jadi jelas gak bias ku follow up. Say good bye untuk kesempatan Kece ini. Tapi sambil nangis dan ngelus dada sih... belum rezki!

                    Ghent University di Belgium. Satu lab dari universitas ini punya projek juga di bidang video coding. Nah, informasi kalau Ghent University ini lagi buka lowongan aku dapat dari Research gate via email. Tahapan untuk proses ke Ghent University ini juga sama dengan University of Nantes. Document screening dan kemudian wawancara via Skype. Singkat cerita, di tahap wawancara, aku harus berhadapan dengan tiga orang examiners. Bagiku, wawancara di sini lebih menegankan karena aku harus ngobrol dan presentasi dengan satu orang professor, satu orang Doctor, dan satu orang mahasiswa PhD. Permintaannya ditahap wawancara ini adalah ada ujian tertulis yang aku gak punya ide sebelumnya akan seperti apa test nya, interview biasa, dan presentasi thesis ku terakhir. Ada kesulitan sendiri untukku di test writing. Waktunya singkat dan dikasi topik yang aku sendiri gak begitu nguasai. Maklum, sekolah master ku lebih sering main-mainnya dari pada nge lab… #ngeles haha#. Jadi uda taulah ya kesimpulannya apa. Tapi diakhir cerita Professor nya tanya apakah aku uda berkeluarga atau belum, ada berencana bawa berkeluarga selama studi atau enggak, dsb, karena mereka akan mempertimbangkan berapa besar biaya atau gaji yang akan didapat. Pertanyaan ini bagiku berasa seperti sebuah harapan tersendiri dibalik rasa kekhawatiran akan kegagalan dari test tertulisku. Dan bener aja, setelah beberapa hari, email konfirmasi dari Ghent University ku terima. Dan Alhamdulillah aku masih gagal. Uda ngaca diri sendiri sih kalau aku akan gagal. Tapi kenapa Alhamdulillah? Karena dari test ini aku bisa mengukur diri dan belajar dari semua proses yang ada. Intinya, gagal pun ya masih baiklah,, karena ada hal yang bisa bikin kita naik satu level untuk tantangan lain.

                    So far sih dua universitas ini yang sangat berkesan bagiku. Prosesnya ituloh,, professional banget. Dan ada tantangan di sana. Karena kampus-kampus lainnya ku apply memang ketepatan gak ada projek. Atau gak ada informasi kalau mereka sedang butuh mahasiswa PhD dalam waktu dekat. Aku negelist kampus-kampus lainnya cuma berdasarkan: "Oh prof dan lab di kampus ini punya bidang penelitian yang sama denganku." Udah sesimple itu. Kemudian kirim email personal ke professornya.

                    Ambil contoh University of Tampere di Finland dan Purdue University di Indiana-USA. Setelah aku kirimin email, professornya balas dengan "Unfortunately, currently my lab is not seeking for a new student. I will inform you personally if I have the vacancies as your query." Kurang lebih begitulah. Oh ya, University of Tampere aku dapat infonya dengan baca forum diskusi di linkedlin. Di forum itu dituliskan kalau satu professor di sana sedang butuh mahasiswa PhD utk video coding. Tapi kayaknya aku telat deh. Posisinya uda keburu diisi orang lain.

                    Sheffield University dan University of Bristol di UK. Dua kampus kenamaan dari UK ini aku search berdasarkan list university LPDP. Yang ini caranya mesti ngubek-ubek web site kampusnya, dan cari research area yang sesuai dengan yang ku punya. Biasanya ada di menu Research gitulah di websitenya. Atau kita bisa cari dengan cara browsing daftar professor atau daftar lab di website kampusnya. Precisely, ke website jurusannya. Nah untuk dua kampus ini, aku harus daftar online melalui system pendaftaran mereka. Tapi sebelum ke sana, pertama kali aku tetep kirim email dan dokuemen yang aku sebut tadi ke professornya. Kemudian mereka menyarankan untuk daftar melalui system, selanjutnya mereka akan mempertimbangkankan aplikasi bersama dengan tim faculty mereka. Keuntungannya dari kirim email dan kirim dokumen dulu ke professor yang kita tuju adalah kita melakukan korespondensi dengan cara memperkenalkan diri. Dengan mengirim dokumen yang kita punya, professor mungkin bisa menilai kita lebih awal. Jadi, kemaslah dokumen kalian serapih, dan sejelas, juga selengkap mungkin. Usahakan bikin orang-orang “terpana” atau merasa tertarik dengan dengan dokumen yang kita punya. Dan Alhamdulillah kedua kampus ini memberiku conditional offer karena aku belum melengkapi IELTS.

                    Kwangwoon University di Korea. Muehehe.. ini adalah kampusku sekarang. Aku dapat gelar master dari jurusan Computer Engineering di kampus ku ini. Selama studi di Korea, aku dapat beasiswa partial dari kampus berupa 50% potongan uang kuliah sebagai mahasiswa international, 50% sisanya di cover sama lab ku sekarang, biaya hidup per bulan dan biaya publikasi juga di support sama lab. Keuntungan kuliah dengan skema ini adalah jelas yang pertama kuliah gratis. Yang lainnya adalah kita punya ikatan professional dengan lab dan professor kita. Jadi, sebelum aku coba semua kampus yang aku sebutkan di atas tadi, professorku di Kwangwoon University menawarkan ku untuk kembali belajar di Lab nya dengan skema funding yang sama seperti master degree, tapi dengan living expenses support yang lebih besar. Tapi waktu itu aku masih pingin coba apply phd ke negara-negara di luar Korea. Alasannya karena Bahasa pengantar dan kesulitan lainnya. Sangat bersyukur bisa belajar di lab dan kenal dengan professorku yang sekarang. Walau aku bilang kalau aku sedang mempertimbangkan untuk kuliah di negara lain, tapi kemudian professorku menanggapi dengan Bahasa yang sangat manis: You may try first other universities in western, but if you don’t get any, you may back to our lab. Sejak itulah aku ngerasa sudah dapat home-based utk phd akan kemana dan mulai mencari kampus yang mungkin aku bisa bilang akan ngebantu aku lebih mudah belajar video coding tanpa kendala Bahasa. Tapi kalau aku harus mencari kuliah di Korea, aku gak akan cari kampus atau mendaftarkan diri ke kampus lainnya. Lab aku ini the best. Professor aku the best, dan temen-temen lab aku juga the best. Berasa suda seperti keluarga di lingkungan labku, jadi gak pingin untuk mencoba kampus lain. Karena aku uda belajar bersama expert yang aku mau. Tinggal bagaimana cara menyelesaikan kendala Bahasa korea ku sahaja. Anyways, sekarang aku uda daftar ke Kwangwoon University, tinggal nunggu kabar dari pihak kampus.


                    So, that’s all cerita perburuan PhD gratisku. Salam semangat hunter~

                    Source image:    http://www.academiaobscura.com Akhirnya ada hasrat untuk ngisi blog ini lagi setelah sekian lama vacuum ntah kare...

                    Source image:  http://www.academiaobscura.com



                    Akhirnya ada hasrat untuk ngisi blog ini lagi setelah sekian lama vacuum ntah karena apa… kehkehkehkeh… Setelah agak merasa nyaman dengan gelar master yang Alhamdulillah akhirnya dapat juga, kali ini aku mau sharing pengalamanku ngejer kesempatan sekolah gratis lagi untuk S3. Prinsip utamaku adalah dapat sekolah gratis dimanapun negaranya. Tapi itu dulu, sebelum tahu bener kalau ternyata statement itu kurang baik sekarang. Sebelum aku tahu apa pentingnya sekolah di tempat yang terbaik di negara terbaik. Sebelum aku tahu kalau selain sekolah terbaik dan di negara yang terbaik, masih ada satu hal yang harus dipertimbangkan lagi, yaitu Lab, Profesor, dan research field kita.

                    Mari kita bahas satu-satu. Bagiku adalah kesempurnaan studi kayaknya ya kalau bisa dapat semua hal pertimbangan yang baru aku sebut tadi. Tapi, ada kalanya kita harus dengan terpaksa merelakan satu hal untuk satu hal lain yang lebih penting. Ini yang namanya pertimbangan. Untuk bahas ini, mungkin lebih mudah kalau kita melihatnya dari sisi kepentingan atau priority dulu, kemudian kita bahas kemungkinan adanya alternative lain. Karena ada mungkin beberapa orang yang beranggapan bahwa dirinya gak akan mampu bisa duduk di Kampus A di Negara A dengan nilai dan kemampuan dia yang dirasa gak setara dengan A – A yang tadi. Tapi sebagai scholarship hunter bukankah seharusnya kita gak boleh pantang mundur ya? Bukannya kita harus tetep memperjuangkan segala kemungkinan, sekecil apapun itu? Bukannya kita harus menempatkan bahwa kesempatan adalah jalan keberhasilan kita kelak? Pointku di sini adalah jangan meremehkan diri sendiri dengan menjustifikasi terlalu dini kalau kita gak berhak untuk Kampus A di Negara A. Ingat, ada faktor gambling dan luckiness yang juga bisa mempengaruhi keberhasilan seorang hunter. Jadi,,, perjuangkanlah terus kalau memang uda sreg sama Si A, tadi walau kita cuma punya something yang bernilai B atau bahkan Z. 

                    Sambil coba-coba si A, mungkin ada baiknya kita juga coba Kampus B di Negara B atau negara manapun yang mungkin bisa dan mau nerima kita secara professional dengan apa adanya (#adaGitu? :D). Ini yang namanya alternative. Oh,, mungkin di Kampus B Negara B kita uda pasti diterima, tapi kalau hati kita terlalu mendambakan Kampus A Negara A, terus gimana? Inget kalau kita adalah a hunter, jadi behave lah seperti a professional hunter… #gayaKali aku bah#. Hahaha. Intinya, coba dan tetep coba apapun kemungkinannya.

                    Jadi, mulailah untuk menentukan jawaban atas pertanyaan “sebenarnya kemana sih arah hidup kita?” Caranya gimana? Salah satunya bisa kita jawab dengan tiga prioritas tadi. That works for me, so I m sure it would work for you too. Otherwise, you would like to try another way which I don’t really know what is that. Kalau dulu aku pernah bilang kalau aku bakalan ok untuk belajar dari nol lagi, tapi untuk S3, NO WAY! (tuh pake capital letter segala). Research field is suggested to be the first priority, then meet the lab and expert to cover and help our research interest. Then university and country are the last option. Tapi kalau aku boleh memilih dan kalau kesempatannya ada ya, aku berharap bisa kuliah di Kampus A Negara A dengan lab, professor, dan research field yang juga A. #ya iyalaaah..# Tapi no matter mau sepertia apalah nilai-nilai dan kemampuan ku, yang penting hunting dulu dan tetep memperbaiki diri… you should have loved to be a hunter, shouldn’t you?

                    Salam semangat hunter~


                    Selanjutnya aku mau bahas prioritas lain, yaitu Lab, Professor, dan research field nya. Setelah sadar kalau Kampus A dan Negara A enggak lah cukup, tiga prioritas ini sangat ngebantu banget untuk nentuin kemana kita (kita..?) akan hanyut dan terbuai dalam lamunan sekolah #halah opo toh >..<? Well, untuk case ku, ini malah jadi prioritas utama sih sekarang. Karena aku uda tau research area ku apa, goalnya mau kemana dan jadi apa, terus kenapa aku masih perlu menjadikan kampus sebagai prioritas utama. Udah enggak lagi!!! Ketiga prioritas ini jauh lebih penting sekarang. Kampus terbaik tetep harus diidam-idamkan dan dipertimbangkanlah, tapi apalah arti kampus TOP kalau ternyata kita gak bias belajar pelajaran yang kita demenin banget. Apalah artinya harta tanpa ilmu…? #eeaak,, padahal OOT! :D. 






                    Salam semangat temans hunter... Artikel kali ini aku mau postingkan paragraph panjang yang sangat benar adanya beberapa poin yang dituli...



                    Salam semangat temans hunter...Artikel kali ini aku mau postingkan paragraph panjang yang sangat benar adanya beberapa poin yang dituliskan di sini. Banyak kekhwatiran yang secara tersurat dipaparkan di tulisan kali ini.  Semoga bisa menggugah semangat kita lagi untuk bisa berjuang sampe darah penghabisan #halah-_-", sampe dapat beasiswanya. Dia adalah salah seorang Dosen senior di Fakultas Sains dan Teknologi, Jurusan Teknik Elektro, UIN Sultan Syarif Kasim Riau yang merupakan salah satu penerima Beasiswa Dikti S3 ke Universite de Mulhouse Colmar Alsace (UHA) di Paris, Harris Simaremare namanya. Agak mupeng aku. 

                    TUlisan beliau ini sebenarnya adalah balasan e-mail yang beliau tulis di milist Dosen fakultas kita (ketepatan aku juga join di milist tersebut). Kemudian salah seorang peraih gelar Doctor dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menyingguh prihal studi lagi bagi dosen-dosen senior di fakultas kita. Jadilah Pak Harris dengan semangat membara menuliskan paragraph panjang yg menggugah semagat ini.

                    Amat benar adanya tulisan beliau ini dibeberapa point yang beliau tulis. Dan kamu akan menjumpai satu paragraph yang sengaja aku "Quote", karena aku juga memiliki perasaan yang sama. Aku bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa dari sekian banyak Lulusan di jurusan Teknik Informatika, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Dibandingkan dengan teman-teman seangkatanku lainnya, aku memiliki banyak kekurangan skill. Dan orang-orang dan teman-teman terdekatku pasti tau ini. Point yang mau aku sampekan diparagraph ini adalah no matter who we are, we must have faith to show how we are. #makin_abstrak#. hehehe

                    Hemm,,, aku ngerasa bersyukur banget dengan semua kesempatan yang aku dapat dan raih selama ini. Yah,,banyak dari teman-temanku bilang kalau aku beruntung bisa dapat kesempatan ini. Aku cuma tersenyum waktu dengar beberapa dari mereka bilang ini, karena memang itu benar adanya. I am the lucky one. Karena aku memang berusaha dan mengejar keberuntungan itu. Anyway,, kepanjangan mukaddimah ku. Nih,,baca tulisan beliau dengan seksama ya.. semoga kita bisa belajar dari beliau.Semangat terus....


                    ===========================================
                    Sesungguhnya pertanyaan mendasar bagi kita ketika akan melanjutkan studi adalah pertanyaan Mental kita. Apakah kita siap meninggalkan kondisi stabil atau kondisi zona aman kita saat ini ke kondisi baru dengan berbagai macam tantangan. Mulai dari tantangan studi, keluarga dan lingkungan baru. Perlu untuk diingat ketika orang ingin melakukan langkah "step forward" dalam hidupnya, dia harus melakukan dobrakan-dobrakan kecil maupun besar untuk keluar dari zona amannya tersebut. Jika tidak siklus hidup kita akan begitu-begitu saja.
                    "Sebelum saya lanjutkan, ada Kesimpulan kecil awal saya terkait studi ini. Bagi saya lulus S3 itu adalah gabungan antara keberuntungan, kejelian mengambil keputusan dan kecerdasan. Faktor kecerdasan saya jadikan variable terakhir karena nilai signifikannya lebih rendah dari yang dua sebelumnya. karena saya percaya setiap manusia diberi modal awal kecerdasan sama, yang menjadi pertanyaan adalah seberapa konsisten dia belajar dan mengulang. Itu saja."
                    ~Harris Simaremare ~

                    Setelah fase awal ini tuntas dalam diri kita, fase berikutnya mengenai ide riset, sumber pendanaan dan lain sebagainya Insya Allah jalannya akan dibukakan Allah swt.Contoh Ide riset. masalah ini kita tidak perlu buat detail dan lengkap. yang penting buatlah profesor kita tau kita akan bekerja di bidang keahlian dia. dengan cara rencana riset kita terkait erat dengan domain risetnya pembimbing. Berjalan waktu pembimbing akan mengarahkan atau bahkan mengubah judul kita. Kalau proposal awalnya sudah detail, apa gunanya promotor atau supervisor

                    Bagi saya menyelesaikan S3 itu selain tantangan akademis, pelajaran utama yang diambil adalah bagaimana kita bisa mengatur waktu, mengatur ide penelitian dan keluarga secara bersamaan.

                    Bagi beberapa orang tantangan keluarga lebih besar porsinya. Sebagai contoh dia kuliah di eropa, musim panas pula, rasanya dunia seperti "kamar mandi" berjalan dan perusahaan kain seperti gak bakalan laku. Penting bagi mereka untuk membawa pendamping sebagai penyemangat dan saling menjaga satu sama lain.

                    Tapi sebelum memutuskan membawa keluarga yang perlu dipertanyakan ke-diri masing masing adalah Apakah memang benar dengan hadirnya keluarga itu akan menjadikan kita semakin produktif atau malah semakin sibuk dengan urusan keluarga, sehingga perkembangan akademis menjadi lambat. Pertanyaan ini yang bisa menjawab diri kita masing masing. Karena ada sebagian membuat jadi lebih baik dan ada sebagian justru sebaliknya membuat konsentrasinya buyar karena banyak urusan keluarga, dan anak di negri orang.

                    Tantangan berikutnya yang juga sering jadi pertimbangan adalah besaran nilai beasiswa. yang saya alami khususnya di Eropa dan dapat beasiswa dari dikti, semua nilai beasiswa dipukul rata yaitu 1000 euro perbulan baik untuk S2 maupun S3. dan persiapkan mental untuk dikirim sekali dalam 6 bulan. 

                    Sebagai gambaran berapa posisi 1000 euro itu bagi kecukupan layak hidup?? Gaji UMR contohnya di Prancis perbulan adalah 1300 euro. tergantung provinsi dan negaranya bisa berbeda. Jadi harga psikologis 1000 euro itu kira kira 1 sampai 5 euro per item dan komparasinya dengan di Indonesia kita dapat gaji 2,5 juta dan harga barang kebutuhan sehari hari di swalayan sekitaran 30 sampai 40 ribu per item.

                    Di eropa yang paling mahal itu adalah biaya Appartemen. Ini tergantung luasan yang akan kita sewa dan kota tempat kita tinggal. Biasanya negara maju memiliki standar luasan layak hidup agar keluarga kita diizinkan ikut dan diberikan visa pendamping student. misalnya di Prancis luasan layak hidup satu orang adalah 11 meter persegi. Aturannya ukuran rumah berdasarkan jumlah anggota keluarga plus 1 (sebagai ruangan umum). Contohnya sekeluarga ada 3, ayah, ibu dan anak, maka luasan minimal apartemen adalah 33 meter persegi tambah 11 meter persegi lagi. jadi minimal harus sewa 43 meter persegi. Aturan ini sangat tergantung kondisi negara, beda negara beda aturannya. nanti bisa ditanyakan ke kedutaan di Indonesia

                    Kalau dilihat memang pas pasan lah uang yang diberikan oleh pemberi beasiswa. Tapi jangan khawatir, percayalah, masalah rezeki itu ada saja jalannya yang penting kita siap mental dulu. Bab ini agak sulit untuk menjelaskan, tapi saya mengalami ada saja jalan rezeki datang dan munculnya kreatifitas ditengah kesempitan dana dari pemberi beasiswa. Dan Insya Allah masih bisa jalan jalan touring :). 

                    Apalagi sekarang ada beasiswa LPDP yang at cost sesuai negara tempat studi dan dikirimkan setiap bulan. Jauuh lebih memudahkan.

                    Kembali ke cost yang paling mahal yaitu apartemen. untuk ukuran 43 meter persegi di kota kecil sekitar 400 euro. separuh beasiswa sudah habis setiap bulannya apalagi kalau kita gerbongnya banyak tentu rumah harus lebih besar lagi. Tetapi seperti yang saya jelaskan diawal selalu ada jalan. Misalnya saya awalnya tidak pernah membayangkan masalah ini. Di negara maju, bagi yang penghasilan bulanannya dibawah UMR, jika kita ingin sedikit repot berurusan, kita akan dapat tunjangan rumah dan tunjangan anak. Sekali lagi ini tergantung kondisi dimana negara kita melanjutkan studi. 

                    Jadi saran saya Jeli-lah dalam memilih negara dan kota tujuan. sebagai contoh, diawal saya mengajukan dua aplikasi kedua universitas di Prancis yaitu ke Univ Piere marie curie (UPM) dan UHA. dan diterima di keduanya. UPM itu ada dikota Paris dan rangkingnya lebih top dari UHA. Tapi saya pilih UHA dengan pertimbangan di kota kecil dan berefek kepada biaya hidup dan biaya apartemen. lebih kecil dari biaya hidup di kota megapolitan seperti Paris.

                    Saya harus menghentikan tulisan ini nanti kalau kepanjangan inti ceritanya malah tidak dapat. Point yang saya ingin sampaikan adalah :

                    1. Persiapkan mentalitas
                    2. Masalah dana dan segala macamnya Insya Allah bisa teratasi. karena biasanya dana diberikan sesuai standar hidup negara tujuan.
                    3. Sebagian dari kita terasa berat dengan kondisi keluarga saat ini apalagi bagi Ibu Ibu, dan bapak bapaknya juga.. Tapi yakinlah selalu ada jalan.
                    Pertanyaannya beranikah kita melakukan dobrakan-dobrakan kecil dalam siklus hidup kita???


                    Salam hangat dari Colmar. dan selamat beraktifitas

                    NB. Hari kamis ini liburan memperingati hari pahlawan. Long weekend



                    =================================================