Showing posts with label Motivation. Show all posts

Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang...





Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang mahasiswa PhD hehehe...

----------------------

Pro sebagai PhD Student
  1. Kalau kamu senang dengan sebuah titel atau embel-embel gelar di belakang namamu, nah menjadi seorang PhD, kamu akan dengan bangga menggandengkan gelar Dr. namamu atau Namamu, PhD. Di dunia profesional (pekerjaan), gelar ini menjadi magnet yang canggih. Kedengarannya terlalu cetek memang, tapi banyak yang memang suka membangga-banggakan gelar Dr atau PhD nya. Kamu mau gak? hihi
  • Dengan menjadi seorang insan PhD (#tsaaaahh... Insan) kebanyakan kita akan menjadi cukup kuat dan tangguh secara mental dari semua tekanan, kritik, dan bahkan ejekan orang lain. Hal ini bisa diuji dengan beragam macam kritik dan penilaian skeptis terhadap kerjaan atau research seorang PhD Student. PhD adalah ladang amal untuk kita sendiri hahaha.. tapi memang harus bermental baja. Susah memang kalau terpaksa harus sering-sering menjadi manusia yang baperan. Aku udah ngalami kok waktu aku ngerasa down banget dengan kerjaan lab ku. Tapi kemudian aku sadar, aku belum siap untuk mendapat kerjaan yang baik.
  1. Kamu akan belajar banyak hal. PhD pada dasarnya adalah tentang belajar. Dan menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu akan belajar banyak hal, you will learn tons of things!!!! Tidak harus melulu tentang riset, kalau kamu mau dan bisa memanage waktumu, tapi segala hal yang tujuannya untuk mempersiapkan dirimu menjadi manusia yang banyak pengetahuan. Jika kamu benar-benar belajar selama PhD, kamu akan memperoleh banyak hal di luar dari sepesifik disertasi dan bidang penelitianmu, misalnya critical thinking, independence, and time management. Now you see... research skills need an advanced degree.
  • Tergantung dari siapa pembimbingmu. Kamu bisa melakukan dan menyelesaikan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa PhD dimanapun dan kapanpun. Jadi untuk beberapa orang, menjadi seorang mahasiwa PhD itu sangat flexible. Karena kamu memang dituntut untuk memiliki kemampuan time management yang baik. Hal ini sangat menyenangkan pasti. Misal, sambil jalan-jalan kamu bisa nyambi ngerjain kerjaan Lab mu mueheheh.. gueh pun mahuuuu!
  1. Bidang studi dan riset yang semakin fokus. Jelas banget ini mah, kalau kamu menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu hanya dihadapkan pada satu spesifik bidang penelitian saja. Dan sepanjang PhD mu, kamu akan hanya benar-benar belajar dan mendalami topik penelitianmu. Makanya, pastikan kamu sudah memutuskan dan memastikan topik yang akan kamu kerjakan nanti menyenangkan untukmu. Dengan begitu, kamu bisa mendorong kemampuan terbesarmu untuk menemukan innovative solusi dan berimpact besar untuk bidang penelitianmu.
  • Gobal perspective. Dengan menjadi seorang PhD student, kamu akan melihat dunia dengan perspective yang berbeda. Kamu akan belajar bahwa semuanya perlu data dan otakmu akan terlatih untuk berbicara banyak hal berdasarkan fakta. Data! Selain itu, daya analisismu juga akan berkembang terhadapt bidang apapun. Karena kamu akan terlatih untuk selalu skeptis pada kebanyakan hal.
  1. Interkasi dengan dunia akademik yang semakin luas. Kamu pasti bisa menjelaskan hal ini berdasarkan perspektifmu sendirikan? Menjadi mahasiswa PhD akan memberikanmu kesempatan yang luas untuk benar-benar menikmati enak-enggaknya dunia akademik. Enaknya ya jelas, kamu akan punya kesempatan untuk belajar banyak hal dari orang-orang yang memiliki bidang yang sama dengan penelitianmu (misalnya), kamu punya kesempatan untuk menjajal forum-forum diskusi internationally, dan kalau kamu beruntung, kamu bisa keliling dunia sambil belajar. Hmmmm..... 

    Cons sebagai PhD Student
      • Yang paling terasa menurutku adalah kamu akan memiliki support funding yang minimal deh selama menjadi mahasiswa PhD. Dalam hal keuangan, PhD student akan hidup dengan life style yang serba pas-pasan. Oooh... kamu mungkin bisa juga dapat beasiswa dari kampus atau dari sponsor-sponsor yang lain. Tapi percayalah, kamu tidak bisa menjanjikan dirimu akan dapat uang yang berlimpah dibandingkan teman-temanmu yang bekerja di luar.
        1. Tekanan hidup yang tinggi. High level stress in life everrrrrr muehehe... Dan itu kayak endless. Kalau kamu gak siap dengan pernyataan atau penjelasan ini, ya kamu baca ajalah biar kamu tau. Yang penting sekedar tau. hahah.. Jadi, mahasiwa PhD itu mendapat tekanan mental dari segala sisi: tekanan diri sendiri (misal target riset, target tabungan, target nikah, target haji, target sukses, target mati #EH), tekanan dari profesor atau pembimbingmu atau senior-senior mu di Lab (karena harus publikasi paper, misal setahun 2 paper, atau karena projek lab mmmanyak jadi terus bertarung dengan dealine projek dan riset tiap minggu), tekanan mental dari keluarga (kalau kamu sudah nikah ini akan terasa banget, menjadi mahasiswa PhD full time butuh tingkat fokus level tinggi, kalau di rumah ada problem, kemungkinan besar akan ngefek ke kampus dan risetmu, gitu juga sebaliknya), tekanan dari sosial (ditanya kapan lulus, kapan nikah, kapan publikasi paper, kapan jalan-jalan, dsb. Dan kamu hanya bisa bilang F**K lah wkwkwk), tekanan ekonomi, tekanan kesehatan, dsb lah...
          • Kemungkinan besar, kamu akan sangat susah untuk memiliki waktu ngehedon... dan siap-siaplah untuk dijauhi dari teman-temanmu. Percayalah sama gueh.
            1. Sometime, your research is just too hard to do, needs more time and hard work with unclear results. Kadang kerjaan PhD itu diibaratkan ngerjain sesuatu yang abstrak. Terlalu banyak berasumsi dan berhipotesis hanya untuk nemukan sebijik ide. Dan itu bisa berhari-hari mikirinnya. Udalah di lab kena marah profesor, di rumah tidur gak enak pulak, dicemberutin istri lagi #EH.. hahah Hajablah.. wkwk
              • No boss, no working time. Kamu harus siap mental untuk ini. PhD itu harus benar-benar mandiri. Prof mu kadang susah untuk bertukar pikiran. karena dia punya kesibukan sendiri. Anyway, this is not good for everyone for sure. Bahkan kamu tidak sadar kalau kamu hanya bengong seharian with no results. Dan gak sadar tau-tau uda sebulaaaan aja tanpa ada hasil apapun. Nangis!!!!!
                1. Love life. By now, you should've realized that science and love rarely walk together. Your life is only for your life at school ***not love! Bersiap-bersiap orang yang paling kamu kasihi juga akan kabur dari kehidupan nyatamu. Mudah-mudahan bukan kita. Tapi ada banyak cerita dan kisah yang pada akhirnya harus divorce atau break dari pacarnya. Karena yang jadi mahasiswa PhD itu kadang egois banget dengan diri sendiri dan Lab atau kehidupan sekolahnya. Sementara pacarmu nuntut selalu untuk jalan-jalan dan nge date di pinggir empang! Ta*k banget kan? Banyak orang yang susah ngatur love and your real life as a student. Just be ready OKAY! Intinya kalau putus, ya pokoke kamu tau aja kalo dia bukan untuk mu dan in the nearly future, dia akan sadar kalau kamu better than his boyfriend. haha...
                • Banyak waktu kamu akan menjadi lebih melankolis. Apalagi waktu kamu sadar uda sebulanan kamu belum punya results. Deng deng deng..... #Musik horor... Pas kamu gak punya kerjaan, dan gak punya hasil apapun, rasakanlah neraka dunia akademik. Hidupmu seolah-olah ntah jadi apa.... sometime you do feel like a lazy idiot guy! Again, just be ready and make sure you wont be in that position.

                  ----------------------

                    Gitu deh kalau menurutku. Oya, kalau kamu punya cerita sendiri dan pandangan sendiri, monggo tulis dikotak komen ya. Panjang juga gapapa... Aku sering kok kabur dari kehidupanku sebagai mahasiswa ke halaman blog ini. Kadang cuma untuk baca tulisan aku lagi dan nemuin ada yang error di tulisanku. wkwkwk. 

                    Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisa...

                    Phd Student



                    Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisan ku yang ini: Beberapa Pertimbangan sebelum Kuliah PhD Gratis




                    Di halaman artikel itu, aku juga sempat jawab dan jelasin alasanku mengapa aku memilih kuliah sampai ke jenjang S3. Bukan pertimbangan yang singkat, bahkan ketika aku sudah mulai menjalani program S3 ku, tantangan untuk memotivasi diripun terkadang juga berkurang. Nah, ditulisanku itu, aku jawabnya begini nih:




                    Jadi karena komen dan pertanyaan ini lah aku membuat tulisan khusus yang akan menjelaskan beberapa alasan general mengapa kamu harus sekolah sampai S3. Seperti yang sudah dituliskan juga oleh seorang penulis artikel untuk kategori PostGraduate Articles, Lucinda Borrell, bahwa menjadi seorang mahasiswa atau memilih menjadi seorang mahasiswa S3 adalah sebuah perjalanan hidup yang penuh tantangan, butuh keberanian untuk tetap bisa survive, dan sebuah pilihan hidup yang cukup panjang di dunia akademik. Jelas dong ya, kehidupan seorang mahasiswa PhD itu hingga mendapat gelarnya bisa mencapai 3 - 7 tahun. Well, normalnya di kebanyak negara, jenjang penyelesaian S3 itu 3 tahun, tapi negara-negara seperti Korea, China, dan beberapa kampus di Jepang dan Jerman untuk program studi Engineering, program PhD biasa ditempuh paling cepat 4 atau 5 tahun. Itu normal loh. Bahkan ada dan sebenarnya cukup banyak yang sampai 7 tahun. Lebih panjang dari masa kuliah zaman S1 kan? atau bahkan kalau memang harus molor, bisa jadi sama dengan atau bahkan lebih lama dengan zaman sekolah SD kamu. So, if you come to this decision, you have to make sure that PhD is something that you really want. Not because somebody pushes you to do so. It might be really so damn hard if you know that PhD/research is not your passion!

                    Oleh karena itu, kalau kita kuliah S3 di Luar Negeri, kita tuh justru dibayar, bukan kita yang bayar kuliah (walau dibayar murah ya muehehe). Well, kind of dapat bayaran dueh. Let's say, kehidupanku di Korea yang sekarang, sebagai mahasiswa PhD di Computer Engineering Department. Aku kuliah ikut Lab seorang professor di Kampus Kwangwoon University. Aku melakukan research, publikasi, dan belajar di kampus (tepatnya di Lab) yang memiliki funding. I don't think I want to do such job if I don't get any funds. Karena berat kerjaannya. Jadi, secara financial, memang ketika kita masih seorang mahasiswa, ya kita itu ibara kuli murahnya Lab-lab. hehehehe.. demi sebuah degree kok ya mau banget tersiksa hidup, gitu kan yak? Tapi itu tadilah yang namanya passion, ada satu hal yang gak tau gimana jelasinnya mengapa banyak orang sangat mengidamkan kehidupan seperti ini. You cannot say NO if you passionate on it. Really!!!! Jadi kalau kamu memang benar-benar ingin menikmati hidup yang penuh tantangan begini, then you should do it for the right reasons.....

                    1) Kamu ingin bekerja dan menjadi seorang expert pada bidang penelitian tertentu

                    Aku kok masih percaya, kebanyakan orang yang memutuskan untuk kuliah S3 adalah karena mereka ingin bekerja pada spesifik bidang tertentu dan expert dibidangnya. Alasan ini masih mejadi alasan terkuatku mengapa aku juga masih pingin lanjut kuliah. Banyak mahasiswa PhD yang masih betah berlama-lama di bangku kuliah ya karena mereka memiliki passion untuk meneliti. Meneliti dibidang-bidang tertentu dan mereka ingin menghabiskan waktu mereka hanya untuk meneliti bidang itu. Mereka bahkan mungkin percaya bahwa mereka akan menemukan sesuatu jika mereka terus-menerus melakukan penelitiannya.

                    Kesimpulannya adalah, bahwa satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup seorang mahasiswa PhD ketika mereka pada akhirnya bisa melakukan penelitian mereka sendiri dan menghasilkan sebuah penelitian atau teori baru yang memang memiliki manfaat atau impact yang besar bagi kehidupan orang banyak. Inilah salah satu bentuk kontribusi mereka sebagai seorang peneliti. Jika pekerjaan mereka bener-bener menarik, banyak orang baik peneliti-peneliti di lingkungan akademik maupun institusi penelitian lainnya bahkan akan tertarik juga untuk mengetahui penelitiannya. Dan ini menjadi hal yang sangat membanggakan bagi diri seorang mahasiswa di sepanjang karir PhD nya. Yeaah.. I will definitely say so.

                    2) Untuk Log-term karir

                    Beberapa mahasiswa PhD juga mendambakan sebuah karir yang panjang begitu mereka bisa memiliki gelar S3. Jelas dong, mereka sudah bekerja begitu lama untuk sebuah karir yang lebih baik. Jadi jangan disalahkan juga jika kebanyakan mahasiswa S3 memeiliki harapan jenjang karir yang memang sangat tinggi. Setinggi langit di surga. Tapi, percayalah, kebanyakan dari mereka memang sudah benar-benar merasakan dan sangat berpengalaman dengan banyak hal yang menantang untuk sebuah karir di dunia pekerjaan. Walaupun tidak semua mahasiswa PhD berharap bisa bekerja dibidang yang sama dengan bidang penelitian mereka waktu PhD, namun dengan gelar PhD mereka bisa memiliki banyak pilihan karir yang baik dan panjang.

                    3) Untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan menantang ilmu pengetahuanmu

                    Beberapa juga berpendapat bahwa menjadi seorang PhD artinya memiliki wawasan dan pengetahuan yang jauh lebih matang dan luas dari kebanyakan orang yang tidak. Ini cukup bisa dipercayai sih kalau menurutku, karena memang mahasiswa PhD secara natural dibentuk untuk mengetahui sesuatu hal yang lebih dalam dan spesifik. Namun perlu menjadi catatan, seorang PhD Kimia tidak akan tau banyak tentang dunia Komputer misalnya, karena mereka bukan belajar dan meneliti di bidang ilmu komputer. Tapi tanyalah mereka di bidang mereka, engkau akan terkesima!!!!

                    4) Kenikmatan mempelajari satu bidang tertentu

                    Hmmm... yang satu ini aku kira sangat jelas adanya hehehe.. Hidup kalau tidak bahagia ya susah ngejalaninya. Jadi jika kamu memang berniat untuk lanjut kuliah di dunia PhD, pikirkanlah bahwa kamu memang akan senang melakukan pekerjaan dan penelitianmu. Ini menjadi poin yang sangat penting bagi seorang insah PhD.... #tsssaah... Karena kamu akan memiliki kehidupan yang intense dan mungkin cukup monoton selama 3 - 7 tahun kedepan. Tanpa passion dan kesenangan dalam melakukan pekerjaanmu, kamu akan merasa cukup berat dan ngedumeul jaban hari... hehe

                    5) Kamu senang dunia akademik

                    Dari semua alasan di atas, satu yang pasti dari seorang mahasiswa PhD adalah karena mereka memang senang dunia akademik. Well, dunia akademik itu bisa saja karena penelitian, belajar dan kemudian mengjarkan ilmunya, dan juga berkontribusi dan berbagi ke banyak orang. Ini menjadi ajang untuk mendemosntrasikan kemampuan intelektual para teman-teman PhD. Jadi, jika kamu senang di dunia akademik, mulailah jajaki, kamu tuh senangnya di bidang akademik yang mana, senang di penelitian apa, dan kedepannya kamu ingin menjadi expert apa. Empat hal yang aku sebut sebelumnya, semua berfondasi dari alasan ini, karena mereka senang dunia akdemik.

                    Bagi kamu yang sendang mikir-mikir untuk lanjut studi ke program PhD atau tidak, silahkan baca juga tulisan ku yang lain ya: Cerita Perburuan PhD Gratis, Several Things You Should Know about How To Publish a Publication, dan What Should We Do in the Very First Minute of the Day Activities?



                    I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then...

                    I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then I found an article called ‘How the Most Productive People Start Their Work Day’ from greatist.com. It is true that what we do when we are starting our day to get to the office sets the tone for the rest of our day. I usually get bored with works that I even don’t know which, what, and how to start first with. Learning how to make priority on what I will do first might help me to run away from non-concentrate condition.

                    The article tells me that a to-do list activity can improve our productivity in a day. In this state, a to-do list is a map for one full-day that we’ve drawn it every night before bedding. And mostly people will do an email checking for the very beginning activities. And that’s a huge mistake, says Julie Morgenstern in her books called Never Check Email in the Morning. But the same with me, I am doing it every day before I know that what I have done is wrong. The only reason is due to checking email is a reaction needed activity. That means that once we open an email, we will need extra time to read, or even to write text in order to reply it. So the real question is: What exactly should we be doing? To get answers, greatist.com asked super successful people killing it in business, fitness, and life in general what they do to be productive (and resist the siren call of their inbox) the second they step foot into work. The following information is the answers from those successful people quoted from greatist.com:
                    1. Trap your anxieties on paper.
                    “The first thing I do when arriving at 'work' (which is usually my wooden table next to a living wall in my house) is journal. I use a notebook like The 5-Minute Journal to clarify my goals and priorities for the day, as well as perform a basic gratitude exercise. If I'm feeling ambitious, I'll drink pu-erh tea [a type of fermented dark Chinese tea] and free-associate for another two or three pages in a separate notebook. This often allows me to trap my anxieties on paper so I can be more productive with less stress throughout the day.” — Tim Ferriss, author of The 4-Hour Workweek and host of the podcast The Tim Ferriss Show

                    2. Get your energy up with some movement.

                    “The first thing I do is take a walk. (We just got a new puppy!) Then I spend the next hour checking all my social media. I know experts advise that we don’t waste our morning alertness on low-value work like email and checking Twitter, but I know that I can’t focus on more challenging work until I’ve checked in on all the various forms of communication.” — Gretchen Rubin, author of The Happiness Project and Better Than Before

                    3. Go over your to-do list.

                    “The very first thing I do—even before I power on my computer—is enjoy a cup of coffee while reviewing my to-do list, which I make before going to bed every night. This helps me get pumped and organized. After that, I’m ready to take on the day!” — Joy Bauer, R.D.N., nutrition and health expert on NBC’s Today Show and founder of Nourish Snacks

                    4. Do quick check-ins with team members.

                    “The first thing I do is say a quick hello and check in with one or two members of my team. It's important to me because it helps me start the day on a happy, positive note, and it lets me take the temperature of our group. Plus, it's a good thing for overall productivity as creative teams run on good personal relationships and positivity. And in the event something is off or tense, it gives me a chance to find out what's up before things go off the rails. Mostly, though, I just do it because I enjoy it. I am lucky to work with great people who are a lot of fun to be around.” — Pilar Gerasimo, founder of Experience Life magazine and author ofBeing Healthy Is a Revolutionary Act

                    5. Complete the task that requires the most mental focus.

                    "I pour a cup of coffee and get to work writing. I'm fierce about not letting anything interrupt that time. I write for two or three hours and then go to the office for meetings or teaching or student appointments. If I write every day, even for just an hour, there's a momentum that works for me. I can just pick up where I left off. I don't write quickly, but the consistency makes it all add up.” —Marion Nestle, Ph.D, professor of nutrition at NYU and author of forthcoming book, Soda Politics

                    6. Make (and use!) a really effective calendar.

                    “The first thing I do in the morning is check my calendar. It is far more effective than a to-do list. This approach radically reduces the number of decisions I have to make every day because I don't have to decide what to do. I just do it. The calendar also has something called buffer days where I handle small things, focus days where I do things that matter the most, and free days where I do whatever I feel like that isn't work. This is the only way I've found that makes sure I get time for myself, for family and friends, and for my company.” — Dave Asprey, creator of Bulletproof Coffee and author of the forthcoming Bulletproof: The Cookbook

                    7. Hydrate... with a kick.

                    “We have a morning trifecta that works like a charm each day to make us feel alert, connected, and energized as soon as we hit the office. First, we always check in with our team, face-to-face. This interaction in the morning grounds us and connects us to our purpose as a united, productive team. Second, we prep our desks with huge mason jars of water. That way, once we sit down, we can be productive without interruption. Plus, getting hydrated first thing in the morning gives us energy and keeps us healthy. Finally, we sip on a little caffeine, like coffee or tea, for a little boost.” —Kirsten Potenza and Cristina Peerenboom, creators of the POUND workout and the POUND Rockout Results System

                    8. Express gratitude for who (and what) is working.

                    “I like to start my day with a little gratitude. I walk all the way through the office to the kitchen at the back and say hello to the people on my incredible team, making sure to let each one know how much I appreciate them!” — Kathryn Minshew, founder and CEO of The Muse


                    What about you…? I am not sure if there is any people who read my blog. But, anytime you cross by to this page, would you like to share what you do in the very first day of yours? Please write your story in the comment.








                    Source Picture: Ramadan al-mubarak Menurut loh???? Memang espektasi loh Puasa Ramadhan itu apa? *Tiba-tiba hening. Heniiing bangeeet*. ...

                    Source Picture: Ramadan al-mubarak


                    Menurut loh???? Memang espektasi loh Puasa Ramadhan itu apa? *Tiba-tiba hening. Heniiing bangeeet*.

                    Sekarang, coba bayangin deh, seandainya kamu belajar dan tinggal di Korea selama satu bulan penuh dan sedang berpuasa Ramadhan. Summer lagi, yang memang siangnya lebih lama dari pada malam, kurang lebih 17 jam-an lah. Selain itu, bayangin juga kondisi di mana kamu puasa sendiri diantara teman-teman Korea kamu. Kemudian salah satu temen kamu ngajak kamu farewell party karena dia baru menyelesaikan thesisnya. ketika kamu jalan keluar di sekitaran kampus, kamu melihat ada toko-toko makanan dan minuman segar di sana. Atau kamu jalan sedikit keluar dari arah gerbang kampus, terus di seberang kamu ada toko buah, dan dengan tidak sengaja mata kamu tertuju ke salah satu buah di luar toko, yaitu Semangka. Summer plus semangka jawabannya adalah sudah pasti seger banget!!!

                    Yeeaah,,, itu jadi pertanyaan penting yang seharusnya kamu punya sebelum bertanya, “Gimana ya rasanya puasa Ramadhan di Luar  Negeri yang siangnya lebih lama di musim panas? Tahan gak ya?” (di tambah emoji wajah memelas). Alih-alih bertanya dengan pertanyaan mainstream itu, kamu bisa tambahkan pernyataan ke diri kamu, “Ah~ sepertinya menarik!”, misalnya. Karena jawabannya memang jelas menarik berpuasa Ramadhan di negara yang siangnya lebih lama dari pada di malam hari. Bukan karena tantangan juga sih, tapi karena kamu sudah tahu bahwa puasa Ramadhan itu esensinya tidak lain adalah untuk beribadah lillahi ta’ala. Bukan sekedar menahan haus dan lapar! Jadi, berpuasa karena Allah adalah persamaan dasar kita berpuasa Ramadhan di Korea atau di belahan bumi manapun bahkan di luar bumi sekalipun dengan di Indonesia.

                    Kamu pasti pernahkan mengalami bener-bener merasa lapar karena kamu belum makan seharian, di luar dari kata ‘karena bepuasa’? Kemudian bandingkan dengan kamu lapar dan haus karena berniat berpuasa, atau karena ingin hemat demi sebuah smartphone baru di bulan depan sajalah misalnya, bedakah? Jawabnya beda! Apapun rintangannya selama kamu berniat untuk berpuasa, kamu pasti akan sanggup menghadapinya, walau lupa sahur sekalipun kemudian berpuasa esok harinya selama 17 Jam. Sama halnya dengan berpuasa di bulan Ramadhan. Kenikmatan dan keistimewaan Ramadhan itu akan tetap kita dapatkan dimanapun kita berada. Jadi, insyaallah no worries-lah, jika kita harus berpuasa di musim panas di negara-negara seperti Iceland sekitar 22 jam, Swedia selama 21 jam, atau Alaska sekitar 20 jam. Atau pernah dengar tidak bahwa ada dua astronot muslim yang pernah merasakan Ramadhan di luar angkasa? Muslim pertama adalah Sultan Salman Al Saud dari Arab Saudi, yang terbang dalam misi STS 51-G pada 17 Juni 1985. Dan yang terakhir adalah astronot asal Malaysia, Sheikh Muszaphar Sukhor, yang terbang dalam misi Soyuz TMA-11 pada 10 Oktober 2007. Jadi sudah jelas-kan bahwa puasa Ramadhan itu akan memiliki keistimewaan yang sama dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, dan tetap akan menjadi bulan yang suci dan penuh nikmat bagi umat islam di seluruh dunia, di manapun! Kita tidak perlulah merasa harus mendapat perlakuan special dari orang yang sedang tidak berpuasa selama kita berpuasa Ramadhan, karena Ramadhan itu memang sudah super special dari Allah SWT untuk umatnya yang beriman. #Aamiin ya rabbal ’alamin.

                    Lantas, apa yang menarik berpuasa Ramadhan di Korea? Untuk hal yang ini, setiap orang memiliki kesannya sendiri-sendiri, tapi berikut adalah beberapa kesan yang saya dan mungkin beberapa orang Indonesia di Korea punya selama berpuasa di Korea.
                    1. Menarik melihat reaksi orang Korea ketika mereka tahu tentang Ramadhan. Belum banyak orang Korea atau masyarakat internasional yang mengetahui tentang Islam dan aktifitas umat Islam lebih dalam. Ceritakanlah bahwa seorang mulim harus melaksanakan shalat 5 kali sehari, ceritakanlah bahwa binatang babi dan minuman beralkohol tidak boleh dikonsumsi oleh umat Islam, ceritakanlah bahwa kamu harus bangun setiap pagi untuk shalat subuh, ceritakanlah bahwa dalam setahun ada satu bulan penuh dimana kamu akan berpuasa, dan bersiaplah melihat reaksi mereka ketika kamu bercerita bahwa kamu wajib tidak diperbolehkan untuk makan dan minum apapun dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam. Ini akan menjadi pemandangan yang sangat menarik bagimu. Lihat sorot matanya ketika kamu bercerita tentang Islam dan aktivitas umat Islam, karena mendadak kamu menjadi sedikit istimewa setelah itu.
                    2. Bagi yang suka tantangan, berpuasa selama musim panas di Korea, di mulai sekitar jam 3 subuh dan berbuka puasa pada jam 8 malam. Terkadang memang menjadi agak khawatir kalau kehidupan kamu selama di Korea seperti saya atau mahasiswa lain yang memiliki kewajiban untuk stay di Lab sampai larut malam. Tidak sedikit mahasiswa di Korea yang harus bersedia menghabiskan waktu dari jam 9 pagi sampai menjelang atau bahkan lewat tengah malam. Ini sudah menjadi pemandangan yang sangat umum di Korea. Jadi bagi mereka yang memang memiliki siklus hidup seperti ini, maka tantangan terberatnya adalah bangun untuk sahur disekitaran jam 2 atau jam 3 subuh. Ini jelas akan menjadi sedikit menantang awal hari puasa kamu.
                    3. Bagi yang anti-mainstream, kamu akan merasa Ramadhan kamu sangat special karena you are the only one yang berpuasa. Berpuasa sendirian ditengah-tengah teman Korea kamu yang memang notabenenya non-muslim itu ternyata memiliki kesan yang berbeda. Ada energi yang lain yang bisa kamu rasakan ketika kamu harus berpuasa dengan mereka yang tidak. Kamu tidak akan merasa lemas sama sekali karena kamu hidup seharian layaknya kamu tidak sedang berpuasa. Tidak ada treatment khusus yang akan kamu dapat dari sekitarmu, but because you are the only one, kamu justru akan mendapat energy dari teman-teman sekitarmu. Dan ini yang bisa membuat Ramadhan di Korea lebih special dari pada di Indonesia. Suka merasa tidak sih kalau temanmu lemas karena puasa, kamu akan cenderung ikut merasa lemas juga? Hehe. Bahkan 17 jam lamanya berpuasa itu tidak berasa. Mungkin karena ada energy tambahan dari sekitar kamu. Sebab kamu tetap akan mendapat porsi bekerja yang sama dengan mereka yang tidak sedang berpuasa.
                    4. Secara otomatis, kamu akan tergabung dengan clan pemburu takjil-takjil gratis di KBRI. Sudah jelaslah selama kamu tinggal di negara selain Indonesia, makanan Indonesia akan cukup jarang kamu temui. Jadi, ketika kamu mendengar istilah “Buka bareng di KBRI” atau dimanapun, ini menjadi kesempatan yang sangat menarik untuk menyantap lezat makan-makanan Indonesia lagi. Tidak jarang para mahasiswa yang datang ke KBRI juga membawa stoples atau kantong-kantong plastik untuk kemudian diisi dengan takjil-takjil atau makanan Indonesia untuk sahur esok harinya :D :D. Dari asrama hati sudah girang dulu, membawa tas berharap bisa pulang membawa takjil dan teman-temannya untuk bekal sahur esok hari. haha
                    5. Kamu akan melihat dan merasakan suasana indah yang berbeda ketika berbuka puasa di Islamic Center Seoul. Pemandangan yang tidak biasa tentu. Seantero gedung dan halaman dipenuhi dengan wajah-wajah timur tengah, dan kamu berdiri sendiri dengan pemandangan itu berseri membawa wajah asia tenggara kamu. #lebay deh.. haha
                    6. Ini menarik tidak ya,, kayaknya menarik bagi mereka yang sering tidur lagi setelah subuh. hehe. Karena kita itu sudah subuh jam 3 an atau setengah empat pas summer, jadi kebayangkan betapa panjangnya jam tidur kamu setalah subuh sampai jam 9 atau 10 pagi.
                    7. Kamu akan semakin sadar bahwa kamu memang sangat mencintai keluarga dan orang-orang terdekatmu di Indonesia. Bahasa ringkasnya adalah kamu jadi kaaangeeen berrrraaattt dengan Ayah Ibu dan sanak saudaramu. Yang kamu bisa cuma mengais memori beberapa tahun silam sebelum kamu hijrah ke Korea, atau justru bisa jadi jauh dari keluarga, beribadah selama di bulan Ramadhan lebih khusyuk.
                    8. Kamu jadi sadar, Ramadhan justru bisa hidup lebih hemat. Yang ini jelaslah yak. Kamu jadi rajin masak dan mengurangi jajan yang berlebihan.



                    sumber gambar: Iman Inside me Rabbi....pengumuman pembibitan alumni PTAI telah di umumkan. Kurang lebih hampir sebulan yang lalu aku da...

                    sumber gambar: Iman Inside me
                    Rabbi....pengumuman pembibitan alumni PTAI telah di umumkan. Kurang lebih hampir sebulan yang lalu aku dan rekan-rekan alumni PTAI mendapat undangan untuk wawancara karena telah berhasil melewati sesi administrasi.

                    Tepat tanggal 25 September 2012 lalu aku berangkat dari Pekanbaru dengan harapan besar bisa memperoleh program bahasa ini. Mungkin kurang serius, atau kurang fokus, atau terlalu percaya diri, atau Engkau memang punya rencara lain untuk ku ya rabb..hingga akhirnya aku pun tau kalau aku bukanlah salah satu dari mereka yang lulus di tahap wawancara.

                    Hari ini adalah hari pertama ku di Pekanbaru lagi setelah aku dan rekan-rekan di fakultas sains dan teknologi UIN Suska Riau menghabiskan setidaknya 3 hari untuk refreshing di Bukit Tinggi, Sumbar. Selama perjalanan dan masa-masa tenang di sumbar, seorang rekan melihatku membaca sebuah buku yang mengindikasikan bahwa aku adalah seorang scholarship hunter. Beliau cerita banyak. Tapi dari sekian banyak cerita yang diceritakan, ada satu kalimat yang membuat galau sejak itu hingga hari pertama di PKU ini, yaitu: "Tahun 2015 semua dosen S1 harus segera sudah selesai studi S2-nya, tidak boleh ada yang sedang proses". Rasanya otakku terbentur oleh suatu benda yang besar yang membuatku hanya berfokus pada 1 kalimat itu. AKu lupa sedang dimana, yang aku ingat adalah aku harus segera pulang dari sumbar dan memulai kembali langkah-langkah dan semua proses perjuanganku mencari beasiswa.

                    Rabb...Aku percaya pada kuasamu yang Indah. Kekalahanku ini tidaklah kekalahan dari semua langkah yang sudah aku perbuat. Aku masih punya proses-proses lain yang bisa membuat ku bisa lebih sabar. Aku harus ingat bahwa aku harus segera berangkat studi di awal 2013 ini. Tapi semuanya rasanya terhalang karena bahasa inggrisku yang belum juga masuk di zona aman... DI mOnash sendiri aku masih percaya ada pundi-pundi keberhasilan di sana. Setidaknya ada calon supervisor yang bisa diajak tukar pikiran. Tapi rasanya semuanya hilang setelah semua email ku ke beliau terhapus. *nyesek*... Aku harus bisa melihat peluang lain.

                    Rabb,,,Aku serahkan dan pasrahkan semua usahaku ke padamu ya Rabb ku.. Tunjukilah hamba jalan menuju nikmat dan rezki beasiswa S2 mu ke luar negeri. Bantulah hamba, tuntunlah hamba ke sana Rabb.. Hanya engkau yang mampu menunjukkan yang terbaik dari semua pertimbangan-pertimbangan hamba...Rabb, Restuilah hamba dengan nikmat rezki beasiswa S2 ke Luar Negeri mu... amiiiinnn

                    Source Picture: Andrie Wongso Dalam abad 21 yang telah berjalan selama hampir 8 tahun ini kita sering mendengar bahwa Emotional Quotie...

                    Source Picture: Andrie Wongso


                    Dalam abad 21 yang telah berjalan selama hampir 8 tahun ini kita sering mendengar bahwa Emotional Quotient atau lebih dikenal dengan EQ atau Emotional Intelligence (EI) atau Kecerdasan Emosi sangat marak diperbincangkan bahkan dibuat seminar dengan biaya mahal sedangkan pada abad 20 (th 90-an) orang sangat konsen dengan Intelligence Quotient (IQ) atau Kecerdasan Otak. Mengapa?
                    Kata para ahli psikologi dunia yang telah melakukan survey, ternyata keberhasilan seseorang dalam kehidupannya 90% ditentukan oleh Kecerdasan Emosi nya (EQ), sedangkan IQ hanya berperan sebesar 10% saja.
                    Wow, begitu besarkan peran EQ dalam keberhasilan hidup seseorang? Ya, salah satu bentuk kecerdasan emosi (EQ) itu adalah Kemampuan Berbicara, sebagai contoh : Seorang karyawan yang memiliki IQ tinggi (pintar/pandai atau clever) akan tetapi tidak berani berbicara atau mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya kepada orang lain, maka dijamin tidak akan ada satu orang pun yang tahu bahwa ia pandai/pintar/ clever atau memiliki IQ yang tinggi.

                    Kalau kita perhatikan hampir tidak ada pemimpin (tokoh) dunia, pebisnis, politikus ulung, yang tidak memiliki kemampuan berbicara (terutama public speaking). Tidak diragukan lagi bahwa salah satu kecerdasan emosi (EQ) yang paling utama yang harus dimiliki untuk sukses adalah Kemampuan Berbicara.

                    Pada dasarnya cara efektif yang dapat dilakukan untuk mengatasi rasa takut berbicara di depan umum (public speaking) hanya ada 2 yaitu :

                    1. Kemauan Kuat (Strong Willingness)

                    Kemauan kuat untuk apa? Ya sebelum Anda memiliki keberanian berbicara di depan umum dan menjadi pembicara yang baik tentunya rasa takut Anda tersebut harus dihilangkan terlebih dahulu. Nah, untuk menghilangkannya Anda harus memiliki kemauan yang kuat untuk berubah dari takut menjadi berani. Segala sesuatu akan terwujud pada awalnya dimulai dengan sebuah niat atau kemauan. Mengapa kemauan untuk berubah ini harus kuat? Ya, kalau Anda hanya memiliki kemauan yang sekedarnya maka dijamin pasti bahwa rasa takut tersebut akan muncul kembali dan pada akhirnya tidak akan ada tindakan apapun untuk merubah rasa takut Anda menjadi Berani.

                    2. Latihan .... Latihan ... dan Latihan (PRACTICE)

                    Orang bule mengatakan "Practice Makes Perfect", dengan terus berlatih maka akan menjadi terbiasa atau menciptakan suatu kebiasaan (habit) dan pada saat berbicara (di depan umum) menjadi kebiasaan maka kemampuan Anda pun akan semakin terasah dan menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

                    Selain 2 hal utama diatas, saya sarankan Anda juga membaca buku tentang Berani Berbicara (public speaking), mengikuti kursus, training, workshop atau seminar tentang public speaking sehingga akan lebih cepat membantu Anda untuk menjadi orang yang Berani Bicara (public speaking).

                    Setujukah Anda bahwa "BICARA ADALAH KUNCI SUKSES?" ...
                    Bagaimana Menurut Anda?

                    Source Picture: SDC Mau tahu kunci kesuksesan hidup? Berpikirlah positif. Ya, berpikir positif membuat Anda maju dan sukses. Dengan p...

                    Source Picture: SDC


                    Mau tahu kunci kesuksesan hidup? Berpikirlah positif. Ya, berpikir positif membuat Anda maju dan sukses. Dengan pikiran yang positif Anda dapat menjalani segala sesuatu tanpa terbebani oleh seribu pikiran buruk. Anda juga terhindar dari perasaan takut gagal. Jalan di depan Anda pun selalu terasa lapang.

                    Berpikir positif juga menyehatkan. Donald C. Cole, MD, peneliti senior pada Institute for Work and Health di Toronto, menyatakan berpikir positif membantu kesembuhan seseorang, bahkan yang terkena penyakit kronis. Ini bukan omong kosong klise belaka. Salah satu alasannya, karena itu memberi perasaan memiliki kendali atas kesehatan tubuh dan masa depan Anda, jelas psikolog klinis Elizabeth Carl, PhD.

                    Anda ingin tahu bagaimana langkah berpikir positif itu?
                    Ikuti jurus-jurus berikut ini.


                    1. Bangkitkan motivasi

                    Membangkitkan motivasi diri yang kuat dan menambah wawasan yang memperkuat berpikir positif merupakan langkah penting. Pengukuran kualitatif motivasi dapat dilakukan dengan memberikan pemisalan negative case jika suatu tujuan tak tercapai. Misalnya, renungkanlah kemungkinan jika Anda tak diterima kerja? Dari jawaban Anda, Anda dapat memprediksi dan merasakan seberapa kuat motivasi Anda untuk diterima kerja.

                    2. Yakinlah bisa

                    Kelemahan motivasi acap disebabkan oleh pikiran negatif tentang kemampuan diri sendiri, atau tentang mekanisme gerak kehidupan. Cobalah untuk membangkitkan konsep diri positif pada diri Anda. "Jika saya berpikir bahwa saya bisa, maka saya bisa." Katakan setiap ingin melakukan apapun. Yakinkan bahwa Anda bisa. Jika saat ini gagal, berusahalah terus-menerus tanpa kenal lelah. Percayalah, sugesti dari dalam diri dapat membantu Anda mempercepat mencapai proses yang Anda harapkan.

                    3. Jangan fatalistis

                    Jauhkan paham fatalisme yang menyerah pada nasib. Ini punya pengaruh kuat dalam diri Anda untuk membenarkan kegagalan. Menyandarkan kesalahan atau kelemahan pada takdir, yang pengejawantahannya seperti dalam pernyataan bahwa "Saya pada dasarnya bodoh", misalnya, merupakan sumber negative thinking yang signifikan. Anda harus memeranginya, jika ide tersebut ada pada diri Anda.

                    4. Lihat sisi baik

                    Pandanglah sesuatu dari sisi baiknya. Karena berpikir positif adalah memandang segala sesuatu dari sisi pandang kebaikannya. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan kemampuannya pada suatu saat. Bukan sebagai suatu "kebodohan yang menimbulkan berbagai kesialan", tapi memandangnya sebagai suatu tantangan yang amat nikmat untuk diatasi. Orang yang berpikir positif akan memandang perjuangan dan harapan. Orang yang berpikir positif akan memandang keterbatasan ekonominya sebagai suatu sarana untuk hidup sederhana. Dan dengan kesederhanaan ini ia akan mencapai kebahagiaan.

                    5. Mandiri selalu

                    Pertahankan kebebasan Anda. Kebebasan adalah sesuatu yang paling bernilai yang dimiliki setiap orang. Kekebasan untuk berpikir, mencipta, akan tumbuh seperti yang Anda harapkan, tentunya dengan cara yang positif. Ketika Anda menjadi amat tergantung pada orang lain, Anda akan berpikir destruktif dan menjadi malas.

                    6. Tumbuhkan sikap ketaktergantungan segera mungkin.

                    Bertanggungjawablah pada hidup dan tindakan yang Anda lakukan. Sekali Anda merasa mampu mengontrol hidup, Anda memulai perjalanan pikiran positif Anda. Selalu ingat ketika Anda sedang memiliki masalah dengan berpikiran positif. "Anda adalah apa yang Anda pikirkan, dan Anda merasa apa yang Anda inginkan." Dengan melakukan ini, Anda akan selalu menjadi seorang pemenang dan seorang survivor ketika masa-masa sulit.