Source: https://worldtop20.org Beberapa orang mungkin juga tertarik untuk tau perbandingan sistem pendidikan di Korea Selatan dengan di I...

Source: https://worldtop20.org
Beberapa orang mungkin juga tertarik untuk tau perbandingan sistem pendidikan di Korea Selatan dengan di Indonesia. Mari kita bahas di sini juga ya :). Perlu dicatat bahwa Indonesia dan Korea Selatan merdeka ditahun yang sama. Indonesia merdeka 2 hari lebih awal dari pada Korea.




1) Perkembangan Sistem Pendidikan di Korea Selatan
Jadi, Korea melalui pendidikan dan penelitiannya telah berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan. Kita bisa liat dari angka dan persitensinya. Sejak awal 1960, pertumbuhan ekonomi Korea terus merangkak dikisaran angka 7-8% per tahunnya. Wajar dong kalau dengan pertumbuhan yang relatif stabil seperti ini setiap tahunnya, Korea pada akhirnya bisa menunjukkan wajah kumuhnya menjadi negara industri yang menawan bagi para pebisnis, wisatawan, dan para penyedia jasa. Perubahan-perubahan ini juga sebenarnya merambah sampai ke kebijakan pemerintahan, kejelasan hukum, dan tentu didukung oleh sumber daya manusianya. Semua proses panjang ini sudah dimulai dari awal mereka merdeka, sejak tahun 1945-an.

Source: www.worldbank.org
Rahasia lain dari kemajuan negara ini adalah disebabkan karena faktor sosio-kultur. Yakni adanya paradigma yang baik dari masyarakat lokal terhadap pendidikan. Dalam arti lain, masyarakat Korea memang sangat mengapresiasi pendidikan. Tidak hanya sebagai sarana untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tapi juga sebagai bentuk pengakuan sosial (simbol harkat martabat atau kehormatan seseorang). Beberapa sumber bahkan menyebutkan dengan statement yang lebih kuat kalau orang-orang Korea memang obsesive dengan pendidikan. Hal ini bisa kita lihat dari tingginya peminat masyarakat terhadap dunia pendidikan. Mereka sudah melek kalau pendidikan itu sangat penting. Jadi, jangan heran kalau kamu pernah dengar, anak-anak di Korea ada yang sudah dimasukkan ke sekolah sejak umur setahun. Di Indonesia juga sudah ada kan ya? Juga,, kamu jangan heran mengapa banyak orang-orang Korea yang rela bunuh diri kalau mereka tidak bisa masuk ke universitas A atau B dan C. Tapi itu dulu. Rate bunuh diri di kalangan siswa dan mahasiswa dulu memang cukup tinggi di Korea. Karena obsesive tadi. Biasanya dipicu oleh keinginan orangtua nya. Tapi intinya adalah bahwa perkembangan SDA di Korea sudah menjadi fokus utama bangsa ini sejak lama. Dan ini terus berlanjut hingga sekarang. Integritas dan kemandirian berfikir telah dan terus ditanamkan di Korea. 

Karena obrolan kita tentang motivasi, maaf ya kalau tulisannya jadi lebih serius dikit hahah. Tujuanku sebenarnya supaya kalian juga tau kalau di Korea itu juga pernah susah. Well, negara mana yang enggak, ya kan? Tapi Korea berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan mereka melalui pendidikan dan penelitiannya. Negara kita gimana? Silahkan tuliskan opini kamu sendiri di kolom komentar yesss.

Source: www.english.moe.go.kr
Mari kita bahas gambar dari www.english.moe.go.kr di atas. Jadi, kebijakan pendidikan di Korea dibuat secara bertahap. Pertama, dimulai dengan penerapan kewajiban bersekolah bagi anak usia sekolah dasar di tahun 1950-an. Pembebasan biaya sekolah untuk siswa-siswi SD ini sudah dikembangkan di tahun yang sama. Dampak nyatanya adalah meningkatnya jumlah siswa SD pada tahun 1960-an. Rasio penerimaan siswa SD juga melampaui angka 90%. Lalu, pengembangannya terus dibenahi hingga ke pendidikan menengah pertama, tahun 1979, yang juga mencapai 90% level penerimaan siswanya. Sedangkan untuk siswa sekolah menengah atas baru ada sejak tahun 1980-an. Rasio penerimaan untuk siswa SMA juga mencapai 90% di tahun 1990an. Hal yang sama dengan rahasia capaian di level perguruan tinggi yang mencapai 60% sejak tahun itu. 

Untuk lamanya waktu masa sekolah sama persis dengan di Indonesia. SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, dan S1 rata-rata 4 tahun, S2 rata-rata tahun, S3 rata-rata 5 tahun. Tapi Korea bisa jauh lebih unggu dari segi pendidikannya dibandingkan dengan sistem pendidikan di Indonesia. Mengapa? Karena mereka memang sudah memikirkan jangka pajang perkembangan SDA nya.

2) Perkembangan Sistem Pendidikan di Indonesia
Stategi kebijakan pendidikan Indonesia tertinggal 50 tahun dibanding Korea Selatan. Hal ini bisa kita lihat dari kebijakan pembebasan biaya sekolah dasar. Isu pembebasan biaya sekolah dasar baru hangat di awal tahun 2004 dan sampai saat ini mungkin belum sepenuhnya terlaksana? Mohon dikoreksi yaa. Tapi yang aku dengar memang SD - SMA, sekolah sekarang sudah gratisss. Tapi ini baru terjadi di beberapa tahun terakhir kan ya? Mohon koreksi lagi heheh. 

Kemudian jika kita bandingkan angka partisipasi atau rasio penerimaan siswa, Indonesia juga masih tertinggal. Berdasarkan data tahun 2008, rasio penerimaan pendidikan dasar mencapai 90%, pendidikan menengah pertama mencapai 60% dan pendidikan menengah baru mencapai 40%. Rasio tersebut tertinggal dari Korea Selatan yang telah mencapai angka 90% untuk jenjang pendidikan dasar sampai menengah atas semenjak akhir 1990-an. Investasi pemerintah Indonesia di bidang pendidikan pun masih tergolong rendah yaitu berada di angka 3.5% (dibandingkan terhadap GDP), sedangkan Korea berada di angka 4.2%.


Source: https://en.brilio.net/
Kebijakan ekonomi di Indonesia pun tidak berjalan dengan baik. Rencana Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) yang pernah diusulkan di periode pemerintahan Soeharto tidak menunjukkan hasil memuaskan. Keberlanjutannya praktis terhenti semenjak Soeharto tidak lagi menjabat sebagai Presiden. Padahal jika dilihat lebih detail rencana pembangunan ini tidak jauh berbeda rencana pembangunan di Korea Selatan. Kondisi ekonomi Indonesia berada pada level terendah ketika terjadi krisis moneter di tahun 1997, oleh karena itu beberapa industri yang disiapkan sebagai industri lokal yang akan menjadi penggerak kegiatan ekonomi juga terkena dampak serius dari krisis tersebut.

Kebijakan pendidikan dan ekonomi di Korea Selatan lebih terarah dan sistematis, dimana perbaikan dilakukan hampir setiap 7-8 tahun. Kurikulum yang mereka pergunakan saat ini dikenal sebagai “Sixth Revised Curriculum”. Sedangkan kebijakan pendidikan dan ekonomi yang diambil di Indonesia selepas krisis moneter 1997 lebih mirip sebagai kebijakan temporer, dimana selalu berganti seiring pergantian kepemimpinan. Dan sampai saat ini pun pemerintah belum sanggup untuk memetakan stategi kebijakan pendidikan dan ekonomi jangka panjang. Perencanaan kebijakan yang tidak berencana menyiapkan Indonesia jauh ke depan dan tidak selaras antara kebijakan pendidikan, ekonomi dan pemerintahan tidak akan menghantarkan Indonesia pada pencapaian yang maksimal.

Faktor sosio-kultur pun ikut berpengaruh dalam keberjalanan pendidikan dan ekonomi di Indonesia. Pendidikan masih belum mendapatkan apresiasi yang baik dari seluruh masyarakat Indonesia. Rendahnya minat bersekolah masih sangat terasa di beberapa daerah di Indonesia. Hal ini terjadi akibat kurangnya pemerataan pembangunan dan informasi di Indonesia. Oleh karena itu, Pemerintah seharusnya mulai menggerakan semua sektor baik publik ataupun swasta untuk mengubah cara pandang mengenai pendidikan ini.


Source: https://en.brilio.net/

    Pemerintah Indonesia masih menjadi faktor dominan penentu keberhasilan penerapan kebijakan pendidikan dan ekonomi ini, dimana seharusnya sanggup untuk mengolaborasikan pemerintahan, pendidikan dan industri dalam kerangka tujuan yang sama. Selama kebijakan ketiganya masih dalam kerangka yang terpisah, pengembangan sumber daya manusia Indonesia menjadi manusia unggul seperti yang dicita-citakan konstitusi tidak akan pernah tercapai. Dengan kondisi tersebut, produktivitas masyarakat pun tidak akan pernah meningkat sehingga pada akhirnya berimbas kepada kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik.

    Mengapa harus belajar dari Korea? Pengalaman yang dimiliki Korea sesungguhnya memiliki makna pembelajaran yang sangat dalam. Kesungguhan dalam membangun Negara, dibuktikan hanya dalam waktu 50 tahun. Waktu yang cukup singkat untuk mengembangkan sumberdaya manusia. Indonesia dalam hal ini bisa mengambil pelajaran dan kemudian diterapkan di Indonesia, tentunya dengan proses adaptasi terlebih dahulu disesuaikan dengan karakter dan nilai-nilai bangsa kita. Sangat tepat, jika kita, orang Indonesia belajar dari Korea, melihat dari dekat bagaimana mereka mengembangkan pendidikan, ekonomi dan teknologi mereka. Korea Selatan, negara yang sedang membenahi diri menuju negara maju yang bermartabat.

    Korea adalah salah satu negara yang memiliki level penelitian global yang sudah diakui di dunia. Perkembangan penelitian di Korea dimulai...



    Korea adalah salah satu negara yang memiliki level penelitian global yang sudah diakui di dunia. Perkembangan penelitian di Korea dimulai dari tahun 1960an dimana negara ini waktu itu masih dianggap “miskin” dan banyak melakukan imitasi. Dan sejak saat itu, Korea terus meningkatkan kualitas-kualitas penelitiannya, hingga sekarang menjadi contoh bagi banyak negara berkembang. Bahkan menjadi salah satu negara destinasi dengan jumlah mahasiswa asing yang cukup banyak. Per April 2017, ada sekitar 124,000 mahasiswa asing dari manca negara yang tersebar ke 43 universitas negeri dan sekitar 180an universitas-universitas swasta. Hal ini menunjukkan bahwa Korea selatan telah menjadi destinasi Pendidikan popular dan rumah bagi para pecinta ilmu pengetahuan dan teknologi.

    http://www.koreaherald.com

    Korea sekarang sudah memiliki kekuatan Research & Development (R&D) yang sangat mumpuni dan hampir disemua bidang ilmu, khususnya untuk bidang-bidang IT, komunikasi, transportasi, dan civil engineering. Hal ini juga didukung oleh keterbukaan dan keseriusan pemerintah Korea sendiri yang secara massive memberikan investasi pada pusat-pusat R&D di Korea, termasuk hingga pusat penelitian di kampus-kampus. Dukungan investasi pemerintah Korea diantaranya adalah dengan mendirikan Lembaga atau institusi Basic Research (Ministry of Science, ICT and Future Planning, National Research Foundation of Korea, Institute for Basic Science, the INNOPOLIS, dan lain sebagainya). Dari Lembaga-lembaga penelitian ini, Korea telah banyak menghasilkan produk-produk penelitian yang penggunaannya untuk negara Korea sendiri atau di export ke negara lain. Kreativitias, kebebasan meneliti, dan lahirnya start up atau transfer teknologi juga terus berkembang.


    Apakah kamu tahu bahwa:
    1. Pada tahun 2011, Korea Selatan berinvestasi sebesar 0.73% dari total GDP nya untuk pengembangan Lembaga-lembaga Basic Research, dan menempatkan Korea mejadi negara dengan jumlah penelitian terbesar ke-2 di dunia setelah Switzerland dengan 0.77% nilai investasi
    • Korea menduduki ranking ke-9 pada daftar Gross Domestic Expenditure on Research and Development (GERD) per kapita populasi
    1. Korea memiliki patent yang diakui dunia luas dengan urutan ke-3 di dunia dengan jumlah patent 640,412 patent
    • Kemudian, Korea terus meningkatkan nilai investasinya sebanyak 4% untuk research dan development negara ini, dan berhasil menduduki posisi ke-2 pada daftar GERD setelah Israel
    1. Graduation rate dari seluruh universitas di Korea yang berusia 24-34 tahun adalah 63% dan menjadikan Korea sebagai negara paling berpendidikan di level OECD. Hal ini sekaligus menjadikan Korea sebagai negara yang memiliki jumlah peneliti tertinggi di dunia.


    Berikut adalah beberapa contoh atau hal-hal yang sangat baik dari Korea Selatan yang bisa kamu jadikan motivasi untuk belajar di Kor...




    Berikut adalah beberapa contoh atau hal-hal yang sangat baik dari Korea Selatan yang bisa kamu jadikan motivasi untuk belajar di Korea.

    1. Perkembangan Riset Engineering
    Setelah tiga periode tersebut, saat ini Korea Selatan sedang meneruskan pegembangan teknolog mereka di era Next Generation Research. Hampir semua teknologi yang terkenal saat ini ada di Korea Selatan. Sebut saja smart phone dan smart TV. Korea merupakan salah satu leader teknologi ini. Yang terkenal lainnya adalah jaringan internet Korea yang masih menjadi yang terbaik dari negara maju lainnya. Bahkan jaringan 5G sedang direncanakan final di tahun 2020. Atau kita sebut aja yuk mobil besutan korea, Hyunday, yang pertama kali diexport ke North Amerika di tahun 1970an. Dan sekarang menjadi perusahaan mobil terbesar di Korea dan terkenal di manca negara. Termasuk juga lah dengan system transportasi dan signal control transportasi Korea yang terus up to date. Dan yang terbaru adalah, Korea Selatan dalam waktu dekat juga bisa menjadi rumah bagi para pecinta bidang Artificial Intelligent (AI). Karena saat ini saja, pemerintah Korea sedang menggodok rencana untuk membuat satu jurusan khusus untuk bidang AI. Keren gak tuh? Jadi cocok untuk kamu yang memang bidangnya related ke Engineering atau Computer Science, dan ICT.

    2. Perkembangan Riset Science dan Bioteknologi
    Kamu mau liat kemajuan teknologi dari sisi mana lagi? Kosmetik? Kamu pasti juga sudah tau kalau negara gingseng ini sudah punya banyak produk-produk kecantikan yang terbesar di dunia. Alat-alat kecantikannya juga makin mutakhir. Dan aku yakin, mungkin kamu adalah salah satu konsumennya juga hehe. Produk-produk pertanian negara ini juga terus diteliti sehingga bisa menjadi bahan dasar dan bahan baru untuk produk2 makanan atau kosmetik lagi. Bioteknologi mereka terus berkembang di sini. Lab basah dan Lab kering (biasanya mereka nyebutnya gitu, tap jangan tanya bedanya apa haha) sangat aktif di Korea.

    3. Perkembangan Seni dan Kebudayaan Korea
    Dari sisi fashion dan entertainment industry? Kamu yang doyan K-POP dan Drama Korea, pasti setuju banget kalau aku bilang negara ini adalah negara yang paling sering buat kamu baper karena artis-artisanya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Apa??? Cute?? Oke deh. Cute juga boleh. Dan masih banyak lagi. Termasuk wisata dan kulineri nya. Semua bisa menjadi motivasi tambahan untuk kamu bisa studi di Korea. Jadi kamu yang minat dengan bidang Seni dan Budaya, ini mungkin bisa menjadi salah satu motivasimu mengapa mau ke Korea.

    4. Perkembangan Sistem Pemerintahan Korea
    Gimana dengan system pemerintahan dan Pendidikan di Korea? Korea adalah salah satu negara yang sudah menerapkan open data government dan transparasi system pemerintahan. Smart city juga sudah tidak asing lagi di sini. Jadi kamu bisa memilih salah satu kampus di Korea yang memang menyediakan jurusan-jurusan special seperti ini untuk menggali knowledge dan wawasan di bidang ini.

    Jadi sekarang tanggal kamunya nih. Doyan Korea dari sisi mana. Tapi sekali lagi aku sarankan, duluankan misi belajar kamu dulu. Mau apapun jurusan kamu nanti. Kamu akan bisa menikmati semuanya yang ada di sini. Orang-orang Korea memang doyan banget kerja. Mereka bisa mendedikasikan diri mereka di Lab-lab, perpustakaan-perpustakaan, atau bahkan caffe-caffe, tujuannya adalah untuk belajar.



    Source: http://www.daelim.co.kr Setelah sekian tahun aku berkelana di Korea, sampai sekarang pun masih ada yang mau tanya "Kok K...

    Source: http://www.daelim.co.kr


    Setelah sekian tahun aku berkelana di Korea, sampai sekarang pun masih ada yang mau tanya "Kok Korea?". 

    Enggak tau alasan pastinya apa, tapi dulu aku dihadapkan dengan dua pilihan: Malaysia dan Korea Selatan. Kedua-duanya menjanjikan untuk ku bisa terus sekolah. Waktu itu, aku cuma mau bisa kuliah ke Luar Negeri gratis. Malaysia menjanjikan skema beasiswa berupa grant, jadi aku sebagai mahasiswa bisa hidup layak dan tetep sekolah. Sama dengan Korea juga. Bedanya, Korea Selatan tidak atau belum mengenal istilah grant. Apa bedanya? Nanti kita bahas :)

    Jadi gini, kalau kalian bandingkan nilai tukar uang antara Malaysia dan Korea sekarang ini (dan dulu juga, tahun 2013: ketika aku galau memilih), nilai uang Malaysia terhadap US Dollar lebih mahal dibanding Won. Tapi yang aku lihat waktu itu adalah prospek kapan aku bisa mulai kuliah nya. Cerita sedikit nih ya, jadi sebelum aku ke Malaysia, aku uda sempet kirim berkas dulu ke Korea Selatan, kampus ku yang sekarang. Enem bulan lamanya aku nunggu. Karena terlalu sering gagal dengan pencarian beasiswa, aku pasrah, dan memutuskan nekat ke Malaysia. Sampai di Malaysia hampir enem bulan, akhirnya dapat email dari Korea Selatan kalau aku diterima. Padahal waktu itu, aku juga sedang mulai ngenalin projek ku di Malaysia. Tapi belum terdaftar sebagai mahasiswa. Cuma sekedar asisten projek aja. Galau. Bingung mau pilih mana. Tapi kemudian pertimbangan jatuh ke Korea. Karena peluang lebih besar untuk bisa mengenal teknologi terbaru di Korea. Beda dengan beberapa temenku di sini. Mereka justru memang uda jatuh hati banget dengan Korea melalui K-Pop dan drama-daramanya. 

    Nah ini poinnya. Apa motivasi sebenarnya ke Korea?

    Enggak sedikit yang memang ngerasa terjebak dengan kondisi Korea dan semua Image kinclong yang ditawarkan. Katakanlah teknologi dan industri musik - perfilman / drama Korea. Mereka yang tidak bisa survive, maka akan otomatis gagal. Seleksi alam. Sekolah bukan untuk jalan-jalan. Bukan untuk bisa ketemu artis. Bukan untuk bisa keluar masuk konser gratis. Well, semuanya bisa kita dapat setelah kita di Korea, tapi untuk bisa survive di Korea dengan modal itu aja gak bisa. Modal semangat belajar dulu yang harus dibawa. Yang lainnya tadi, itu adalah hadiahnya karena kita bisa bertahan lama di Korea, dan pada akhirnya tau gimana caranya untuk bisa jalan-jalan dan menikmati apa yang memang uda ada. 

    Yok kita bahas pelan-pelan di sini :)

    Jadi, pertumubuhan pendidikan, penelitian, dan yang kemudian menggairahkan pundi-pundi kemajuan ekonomi Korea, tidak terjadi dalam sekejap mata. Pernah dong nonton drama-drama Korea kolosal yang sering menunjukkan gimana Korea tempo doeloe? Banyak yang kelaparan waktu itu. Karena memang negara ini dulu nya sangat terpuruk. Banyak bayi yang meninggal di umur kurang dari setahun karena kurang gizi. Dan juga banyak bayi dan balita dan anak-anak zaman dulu yang kemudian harus pisah dari keluarganya (mereka di adopsi oleh orang-orang dari negara maju. USA punya cerita khusus untuk kisah anak-anak yang diadopsi dari Korea Selatan. Iyah, ada banyak keturunan Korea di USA). Dengan kondisi yang kayak gini, Korea butuh waktu sekitar 50 tahun untuk kemudian bisa bertaransformasi dari negara berkembang dan menjadi salah satu Singa di Asia :). Kita bisa lihat dari perubahan struktural yang jadi platform atau blueprint trasnsformasi ini. Transformasi platform ini panjang jalannya. Sekitar 30 tahun. Yang terjadi dalam 3 periode: 
    - (1960-1970) Periode mencotek atau imitasi teknologi asing
    - (1980-1990) Periode pembentukan pola riset dan pengembangan (R&D) industri
    - (1990-2000) Periode pengembangan riset dasar



    bersambung dulu yaaa... heheh :). Ini aku sambung tulisan motivasi sekolah ke Korea Selatannya ya. Kamu bisa cek betapa menggiurkannya perkembangan penelitian dan pendidikan di Korea:
    1. Mengapa Kuliah ke Korea Selatan
    2. Perkembangan Science dan Teknologi di Korea
    3. Perbandingan Sistem Pendidikan Korea Selatan dan Indonesia
    4. Apa Keuntungan Belajar di Korea Selatan

    Kali ini, aku mau bahas, kehidpuan nyata seorang mahasiswa PhD itu seperti apa. Setelah sebelumnya aku uda bahas pro dan kontra nya men...



    Kali ini, aku mau bahas, kehidpuan nyata seorang mahasiswa PhD itu seperti apa. Setelah sebelumnya aku uda bahas pro dan kontra nya menjadi seorang mahasiswa PhD, ditulisan ini aku mau bahas lebih sepesifik lagi kehidupanku sebagai seorang PhD.

    So, what PhD life is really like?
    Hmmm.... again, ini adalah salah satu pilihan hidup yang seharusnya merupakan pilihan hidup terbesarku. Jadi, kalau kamu pada akhirnya memutuskan untuk lanjut studi ke program PhD, bersiaplah untuk menghadapi "Pujian" dan "Dugaan" atau bahkan "Ujian" dan "Judgement". Misalnya apa? misalnya adalah pertanyaan berikut:

    1. Oh really? wowww.... kamu pasti sangat pintar? 
    2. Ya ampuuun... Jadi nanti gelar kamu apa? Doctor?
    3. Gileeeh,,, Kok bisa sih kamu pinter banget sekolah sampai S3?
    Apapun pertanyaan yang mereka kasih ke kita (kita? Maksudnya aku) jangan hiraukan deh. Biarkan aja. Kalo mereka memang yakin kamu pinter, Aminin aja. Semoga kamu jadi insan yang berguna bagi banyak orang karena kecerdasanmu. Kalau orang tanya kayak tipe pertanyaan nomor 2, iyain aja, karena mereka cenderung basa-basi ajahhh... Yang tipe pertanyaan nomor 3, doakan aja supaya doanya yang mendoakan kamu menjadi pinter banget sekolah itu terkabul. Yakin atau enggak, mereka pada dasarnya cuma sekedar amaze, but dont really care to what happened to us. 

    Kalau kamu sekarang sedang menjalani kehidupanmu di dunia PhD, semangat bertempur. Kalau kamu ngerasa sedang menunda-nunda pekerjaan dengan baca blog ini, keep calm cos I do the same thing when I write this page. hahah. Well, I am not here to judge, man, but let's face the truth, and I am now sharing what my PhD life is really like.

    Gambar di atas menjelaskan apa isi kepala kebanyakan mahasiswa PhD loh.
    Dan gambar di atas bisa menjelaskan banyak hal apa yang sedang dialami seorang mahasiswa PhD. Silahkan baca! 

    Agak nyeremin memang, tapi itulah pilihan hidup. Rasanya asam kecut manis gurih!
    Kita hidup di dunia ini juga mungkin kenyataannya akan lebih parah dari gambar itu, ya gak sih? So, jangan takut, jangan keder dulu untuk mulai. Kalo gak kuat, ya mulai lagi aja. heheheh

    SUDAH TUA dan masih jadi MAHASISWA
    Meeeen.... berat gak sih? mau ngapain coba kuliah lagi? uda tua juga? paling besok pas selesai PhD terus pensiun? #eh hahah. Maksudku adalah, kebanyakan mahasiswa PhD itu memang umurnya sudah cukup lanjut. Kebanyakan yak. Liat aja deh di Indonesia, kalau orang PhD dan umurnya masih 28an atau 30an awal, pasti mereka terus SHOCK! Ngaku-ngaku aja deh lo ke orang lain. Jadi kalian bisa nge-prank-in orang-orang aneh itu. PhD di usia muda kok shock, yakan? Dan kalau di Indonesia nih ya, mahasiswa PhD itu dianggap uda dewa. wkwkwk... gak lah. Maksudku uda dianggap pinter ngetts dan berduit. Apalagi kalau kuliahnya di luar negeri. Padahal pake beasiswa juga, yang notabenenya untuk orang-orang yang kurang berduit muehehehe #mupeng. Karena memang sekolah PhD itu mehong boyyy. Tapi tau gasih kalau kenyataannya justru terbalik 180 derajat kalau kalian ada atau kuliah di luar Indonesia. Contoh di Korea aja deh. Yang mau kuliah S3 itu lumayan banyak. Umurnya mudah-mudah. Dan mostly mereka nyebut karena mereka harus bayar utang studi S1 mereka ke pemerintah selama 10 tahun setelah studi sarjananya selesai. Makanya mereka bela-belain untuk kuliah tinggi-tinggi untuk bisa dapat kerjaan yang lebih baik. Catatan ya, kalau mereka kuliah dijurusan-jurusan seperti Science dan Engineering, biaya kuliah mereka di atas kertas memang lebih mahas dibandingkan jurusan-jurusan lain. Tapi mereka bisa dapat funding dari Kampus dan Laboratorium/professor mereka. Intinya sih ya sama, kami tuh perlu uang makanya sekolah. Aneh gasih? Aneh!

    Hal lainnya adalah beberapa banyak mahasiswa PhD yang hampir dibilang "gak punya kehidupan" selain sekolahnya. Jangankan mikirin pacaran, malam mingguan aja enggak tau rasanya kayak apa, karena harus ngerasain stress dan anxious dulu untuk bisa ketawak hahahah hihihi.. Mikirin clubbing dan partying biar sama kayak waktu jaman Sarjana, boleh, tapi selalu ada kekhawatiran dengan Lab. hmmm....

    Jadi, dengan memilih menjadi mahasiswa PhD, secara sadar atau tidak sadar, aku tuh udah memingit kebebesanku sendiri.

    Apalagi bagi kita-kita yang uda berkeluarga. Mohon maaf dan berterimakasih banget deh ke keluarga yang mengerti kegalauan seorang mahasiswa Lab. Moody, dan jarang bisa punya waktu banyak untuk keluarga. Kalau keluarga kalian suka ngambek karena kalian terlalu mementingkan Lab dan Sekolah, berarti keluarga kalian tidak mengerti apa yang sedang kalian perjuangkan, dan gimana rasanya berjuang sendirian demi keluarga. Sotoy gueh. wkwkwk... Iya dong yak, keluarga yang ngerti susahnya jadi mahasiswa pasti mau juga ngerasa sakit-sakitnya punya waktu bareng-bareng yang minim, gak punya banyak uang jajan untuk jalan-jalan, dan lain sebagainya. Mudahan bukan kalian, bukan kita.... :)

    Level Kegantengan meningkat atau menurun?
    Hanya Tuhan dan dirimulah yang tau. hahaha...
    Bayangin, dengan level setres yang meningkat, mungkin bisa dibilang dekat ke tittik poin depresi (halah), bagaimana bisa nambah kegantengan ku? Tidur jarang tepat waktu, makan kurang teratur, olahraga hampir gak pernah, males geraknya yang diperbanyak, badan cendureng melebar ke samping, wajah penuh daki dan jerawat. hahahah Kok ini kesannya menderita banget yak?

    nooooo... gak segitunya banget lah. Itu lebay itu lebayyyyy... Tapi I think you may understand, jadi mahasiswa itu kadang susah ngurus diri sendiri. Lupa diri dah bahasa gaulnya hahah, karena memang load kerja otak itu lebih banyak dari orang pada umumnya. Kalian bisa bandingkan orang yang sudah bekeerja mapan dengna mahasiswa mapan, mana yang lebih bahagia? Orang yang punya banyak uang dong yg lebih bahagia yak. heheh...

    Intinya gitu deh.
    Pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan diri kita itu akan seperti apa, iya gasih?
    Kuliah atau enggakpun kalau memang gak ganteng, ya tetep aja jelek.
    Dan kuliah tinggi itu bukan menjanjikan kita untuk punya banyak uang, tapi menjanjikan kita pada pilihan-pilihan hidup yang lebih luas. Apalagi setelah kita dapat degree. Pasti akan ada rezki yang lebih baik.

    Aku tutup tulisan ini dengan SEMANGAT MAHASISWA... muehehe :D

    Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang...





    Jika kamu masih merasa bingung dengan pilihan antara mengambil PhD atau enggak, ini nih aku coba list kan pro dan kontra menjadi seorang mahasiswa PhD hehehe...

    ----------------------

    Pro sebagai PhD Student
    1. Kalau kamu senang dengan sebuah titel atau embel-embel gelar di belakang namamu, nah menjadi seorang PhD, kamu akan dengan bangga menggandengkan gelar Dr. namamu atau Namamu, PhD. Di dunia profesional (pekerjaan), gelar ini menjadi magnet yang canggih. Kedengarannya terlalu cetek memang, tapi banyak yang memang suka membangga-banggakan gelar Dr atau PhD nya. Kamu mau gak? hihi
    • Dengan menjadi seorang insan PhD (#tsaaaahh... Insan) kebanyakan kita akan menjadi cukup kuat dan tangguh secara mental dari semua tekanan, kritik, dan bahkan ejekan orang lain. Hal ini bisa diuji dengan beragam macam kritik dan penilaian skeptis terhadap kerjaan atau research seorang PhD Student. PhD adalah ladang amal untuk kita sendiri hahaha.. tapi memang harus bermental baja. Susah memang kalau terpaksa harus sering-sering menjadi manusia yang baperan. Aku udah ngalami kok waktu aku ngerasa down banget dengan kerjaan lab ku. Tapi kemudian aku sadar, aku belum siap untuk mendapat kerjaan yang baik.
    1. Kamu akan belajar banyak hal. PhD pada dasarnya adalah tentang belajar. Dan menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu akan belajar banyak hal, you will learn tons of things!!!! Tidak harus melulu tentang riset, kalau kamu mau dan bisa memanage waktumu, tapi segala hal yang tujuannya untuk mempersiapkan dirimu menjadi manusia yang banyak pengetahuan. Jika kamu benar-benar belajar selama PhD, kamu akan memperoleh banyak hal di luar dari sepesifik disertasi dan bidang penelitianmu, misalnya critical thinking, independence, and time management. Now you see... research skills need an advanced degree.
    • Tergantung dari siapa pembimbingmu. Kamu bisa melakukan dan menyelesaikan tugas-tugasmu sebagai mahasiswa PhD dimanapun dan kapanpun. Jadi untuk beberapa orang, menjadi seorang mahasiwa PhD itu sangat flexible. Karena kamu memang dituntut untuk memiliki kemampuan time management yang baik. Hal ini sangat menyenangkan pasti. Misal, sambil jalan-jalan kamu bisa nyambi ngerjain kerjaan Lab mu mueheheh.. gueh pun mahuuuu!
    1. Bidang studi dan riset yang semakin fokus. Jelas banget ini mah, kalau kamu menjadi seorang mahasiswa PhD, kamu hanya dihadapkan pada satu spesifik bidang penelitian saja. Dan sepanjang PhD mu, kamu akan hanya benar-benar belajar dan mendalami topik penelitianmu. Makanya, pastikan kamu sudah memutuskan dan memastikan topik yang akan kamu kerjakan nanti menyenangkan untukmu. Dengan begitu, kamu bisa mendorong kemampuan terbesarmu untuk menemukan innovative solusi dan berimpact besar untuk bidang penelitianmu.
    • Gobal perspective. Dengan menjadi seorang PhD student, kamu akan melihat dunia dengan perspective yang berbeda. Kamu akan belajar bahwa semuanya perlu data dan otakmu akan terlatih untuk berbicara banyak hal berdasarkan fakta. Data! Selain itu, daya analisismu juga akan berkembang terhadapt bidang apapun. Karena kamu akan terlatih untuk selalu skeptis pada kebanyakan hal.
    1. Interkasi dengan dunia akademik yang semakin luas. Kamu pasti bisa menjelaskan hal ini berdasarkan perspektifmu sendirikan? Menjadi mahasiswa PhD akan memberikanmu kesempatan yang luas untuk benar-benar menikmati enak-enggaknya dunia akademik. Enaknya ya jelas, kamu akan punya kesempatan untuk belajar banyak hal dari orang-orang yang memiliki bidang yang sama dengan penelitianmu (misalnya), kamu punya kesempatan untuk menjajal forum-forum diskusi internationally, dan kalau kamu beruntung, kamu bisa keliling dunia sambil belajar. Hmmmm..... 

      Cons sebagai PhD Student
        • Yang paling terasa menurutku adalah kamu akan memiliki support funding yang minimal deh selama menjadi mahasiswa PhD. Dalam hal keuangan, PhD student akan hidup dengan life style yang serba pas-pasan. Oooh... kamu mungkin bisa juga dapat beasiswa dari kampus atau dari sponsor-sponsor yang lain. Tapi percayalah, kamu tidak bisa menjanjikan dirimu akan dapat uang yang berlimpah dibandingkan teman-temanmu yang bekerja di luar.
          1. Tekanan hidup yang tinggi. High level stress in life everrrrrr muehehe... Dan itu kayak endless. Kalau kamu gak siap dengan pernyataan atau penjelasan ini, ya kamu baca ajalah biar kamu tau. Yang penting sekedar tau. hahah.. Jadi, mahasiwa PhD itu mendapat tekanan mental dari segala sisi: tekanan diri sendiri (misal target riset, target tabungan, target nikah, target haji, target sukses, target mati #EH), tekanan dari profesor atau pembimbingmu atau senior-senior mu di Lab (karena harus publikasi paper, misal setahun 2 paper, atau karena projek lab mmmanyak jadi terus bertarung dengan dealine projek dan riset tiap minggu), tekanan mental dari keluarga (kalau kamu sudah nikah ini akan terasa banget, menjadi mahasiswa PhD full time butuh tingkat fokus level tinggi, kalau di rumah ada problem, kemungkinan besar akan ngefek ke kampus dan risetmu, gitu juga sebaliknya), tekanan dari sosial (ditanya kapan lulus, kapan nikah, kapan publikasi paper, kapan jalan-jalan, dsb. Dan kamu hanya bisa bilang F**K lah wkwkwk), tekanan ekonomi, tekanan kesehatan, dsb lah...
            • Kemungkinan besar, kamu akan sangat susah untuk memiliki waktu ngehedon... dan siap-siaplah untuk dijauhi dari teman-temanmu. Percayalah sama gueh.
              1. Sometime, your research is just too hard to do, needs more time and hard work with unclear results. Kadang kerjaan PhD itu diibaratkan ngerjain sesuatu yang abstrak. Terlalu banyak berasumsi dan berhipotesis hanya untuk nemukan sebijik ide. Dan itu bisa berhari-hari mikirinnya. Udalah di lab kena marah profesor, di rumah tidur gak enak pulak, dicemberutin istri lagi #EH.. hahah Hajablah.. wkwk
                • No boss, no working time. Kamu harus siap mental untuk ini. PhD itu harus benar-benar mandiri. Prof mu kadang susah untuk bertukar pikiran. karena dia punya kesibukan sendiri. Anyway, this is not good for everyone for sure. Bahkan kamu tidak sadar kalau kamu hanya bengong seharian with no results. Dan gak sadar tau-tau uda sebulaaaan aja tanpa ada hasil apapun. Nangis!!!!!
                  1. Love life. By now, you should've realized that science and love rarely walk together. Your life is only for your life at school ***not love! Bersiap-bersiap orang yang paling kamu kasihi juga akan kabur dari kehidupan nyatamu. Mudah-mudahan bukan kita. Tapi ada banyak cerita dan kisah yang pada akhirnya harus divorce atau break dari pacarnya. Karena yang jadi mahasiswa PhD itu kadang egois banget dengan diri sendiri dan Lab atau kehidupan sekolahnya. Sementara pacarmu nuntut selalu untuk jalan-jalan dan nge date di pinggir empang! Ta*k banget kan? Banyak orang yang susah ngatur love and your real life as a student. Just be ready OKAY! Intinya kalau putus, ya pokoke kamu tau aja kalo dia bukan untuk mu dan in the nearly future, dia akan sadar kalau kamu better than his boyfriend. haha...
                  • Banyak waktu kamu akan menjadi lebih melankolis. Apalagi waktu kamu sadar uda sebulanan kamu belum punya results. Deng deng deng..... #Musik horor... Pas kamu gak punya kerjaan, dan gak punya hasil apapun, rasakanlah neraka dunia akademik. Hidupmu seolah-olah ntah jadi apa.... sometime you do feel like a lazy idiot guy! Again, just be ready and make sure you wont be in that position.

                    ----------------------

                      Gitu deh kalau menurutku. Oya, kalau kamu punya cerita sendiri dan pandangan sendiri, monggo tulis dikotak komen ya. Panjang juga gapapa... Aku sering kok kabur dari kehidupanku sebagai mahasiswa ke halaman blog ini. Kadang cuma untuk baca tulisan aku lagi dan nemuin ada yang error di tulisanku. wkwkwk. 

                      Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisa...

                      Phd Student



                      Artikel ini aku buat karena ada satu sahabat blog IsmailMz yang menanyakan tentang alasan mengapa kuliah sampai PhD, alias S3, ditulisan ku yang ini: Beberapa Pertimbangan sebelum Kuliah PhD Gratis




                      Di halaman artikel itu, aku juga sempat jawab dan jelasin alasanku mengapa aku memilih kuliah sampai ke jenjang S3. Bukan pertimbangan yang singkat, bahkan ketika aku sudah mulai menjalani program S3 ku, tantangan untuk memotivasi diripun terkadang juga berkurang. Nah, ditulisanku itu, aku jawabnya begini nih:




                      Jadi karena komen dan pertanyaan ini lah aku membuat tulisan khusus yang akan menjelaskan beberapa alasan general mengapa kamu harus sekolah sampai S3. Seperti yang sudah dituliskan juga oleh seorang penulis artikel untuk kategori PostGraduate Articles, Lucinda Borrell, bahwa menjadi seorang mahasiswa atau memilih menjadi seorang mahasiswa S3 adalah sebuah perjalanan hidup yang penuh tantangan, butuh keberanian untuk tetap bisa survive, dan sebuah pilihan hidup yang cukup panjang di dunia akademik. Jelas dong ya, kehidupan seorang mahasiswa PhD itu hingga mendapat gelarnya bisa mencapai 3 - 7 tahun. Well, normalnya di kebanyak negara, jenjang penyelesaian S3 itu 3 tahun, tapi negara-negara seperti Korea, China, dan beberapa kampus di Jepang dan Jerman untuk program studi Engineering, program PhD biasa ditempuh paling cepat 4 atau 5 tahun. Itu normal loh. Bahkan ada dan sebenarnya cukup banyak yang sampai 7 tahun. Lebih panjang dari masa kuliah zaman S1 kan? atau bahkan kalau memang harus molor, bisa jadi sama dengan atau bahkan lebih lama dengan zaman sekolah SD kamu. So, if you come to this decision, you have to make sure that PhD is something that you really want. Not because somebody pushes you to do so. It might be really so damn hard if you know that PhD/research is not your passion!

                      Oleh karena itu, kalau kita kuliah S3 di Luar Negeri, kita tuh justru dibayar, bukan kita yang bayar kuliah (walau dibayar murah ya muehehe). Well, kind of dapat bayaran dueh. Let's say, kehidupanku di Korea yang sekarang, sebagai mahasiswa PhD di Computer Engineering Department. Aku kuliah ikut Lab seorang professor di Kampus Kwangwoon University. Aku melakukan research, publikasi, dan belajar di kampus (tepatnya di Lab) yang memiliki funding. I don't think I want to do such job if I don't get any funds. Karena berat kerjaannya. Jadi, secara financial, memang ketika kita masih seorang mahasiswa, ya kita itu ibara kuli murahnya Lab-lab. hehehehe.. demi sebuah degree kok ya mau banget tersiksa hidup, gitu kan yak? Tapi itu tadilah yang namanya passion, ada satu hal yang gak tau gimana jelasinnya mengapa banyak orang sangat mengidamkan kehidupan seperti ini. You cannot say NO if you passionate on it. Really!!!! Jadi kalau kamu memang benar-benar ingin menikmati hidup yang penuh tantangan begini, then you should do it for the right reasons.....

                      1) Kamu ingin bekerja dan menjadi seorang expert pada bidang penelitian tertentu

                      Aku kok masih percaya, kebanyakan orang yang memutuskan untuk kuliah S3 adalah karena mereka ingin bekerja pada spesifik bidang tertentu dan expert dibidangnya. Alasan ini masih mejadi alasan terkuatku mengapa aku juga masih pingin lanjut kuliah. Banyak mahasiswa PhD yang masih betah berlama-lama di bangku kuliah ya karena mereka memiliki passion untuk meneliti. Meneliti dibidang-bidang tertentu dan mereka ingin menghabiskan waktu mereka hanya untuk meneliti bidang itu. Mereka bahkan mungkin percaya bahwa mereka akan menemukan sesuatu jika mereka terus-menerus melakukan penelitiannya.

                      Kesimpulannya adalah, bahwa satu hal yang paling membahagiakan dalam hidup seorang mahasiswa PhD ketika mereka pada akhirnya bisa melakukan penelitian mereka sendiri dan menghasilkan sebuah penelitian atau teori baru yang memang memiliki manfaat atau impact yang besar bagi kehidupan orang banyak. Inilah salah satu bentuk kontribusi mereka sebagai seorang peneliti. Jika pekerjaan mereka bener-bener menarik, banyak orang baik peneliti-peneliti di lingkungan akademik maupun institusi penelitian lainnya bahkan akan tertarik juga untuk mengetahui penelitiannya. Dan ini menjadi hal yang sangat membanggakan bagi diri seorang mahasiswa di sepanjang karir PhD nya. Yeaah.. I will definitely say so.

                      2) Untuk Log-term karir

                      Beberapa mahasiswa PhD juga mendambakan sebuah karir yang panjang begitu mereka bisa memiliki gelar S3. Jelas dong, mereka sudah bekerja begitu lama untuk sebuah karir yang lebih baik. Jadi jangan disalahkan juga jika kebanyakan mahasiswa S3 memeiliki harapan jenjang karir yang memang sangat tinggi. Setinggi langit di surga. Tapi, percayalah, kebanyakan dari mereka memang sudah benar-benar merasakan dan sangat berpengalaman dengan banyak hal yang menantang untuk sebuah karir di dunia pekerjaan. Walaupun tidak semua mahasiswa PhD berharap bisa bekerja dibidang yang sama dengan bidang penelitian mereka waktu PhD, namun dengan gelar PhD mereka bisa memiliki banyak pilihan karir yang baik dan panjang.

                      3) Untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan menantang ilmu pengetahuanmu

                      Beberapa juga berpendapat bahwa menjadi seorang PhD artinya memiliki wawasan dan pengetahuan yang jauh lebih matang dan luas dari kebanyakan orang yang tidak. Ini cukup bisa dipercayai sih kalau menurutku, karena memang mahasiswa PhD secara natural dibentuk untuk mengetahui sesuatu hal yang lebih dalam dan spesifik. Namun perlu menjadi catatan, seorang PhD Kimia tidak akan tau banyak tentang dunia Komputer misalnya, karena mereka bukan belajar dan meneliti di bidang ilmu komputer. Tapi tanyalah mereka di bidang mereka, engkau akan terkesima!!!!

                      4) Kenikmatan mempelajari satu bidang tertentu

                      Hmmm... yang satu ini aku kira sangat jelas adanya hehehe.. Hidup kalau tidak bahagia ya susah ngejalaninya. Jadi jika kamu memang berniat untuk lanjut kuliah di dunia PhD, pikirkanlah bahwa kamu memang akan senang melakukan pekerjaan dan penelitianmu. Ini menjadi poin yang sangat penting bagi seorang insah PhD.... #tsssaah... Karena kamu akan memiliki kehidupan yang intense dan mungkin cukup monoton selama 3 - 7 tahun kedepan. Tanpa passion dan kesenangan dalam melakukan pekerjaanmu, kamu akan merasa cukup berat dan ngedumeul jaban hari... hehe

                      5) Kamu senang dunia akademik

                      Dari semua alasan di atas, satu yang pasti dari seorang mahasiswa PhD adalah karena mereka memang senang dunia akademik. Well, dunia akademik itu bisa saja karena penelitian, belajar dan kemudian mengjarkan ilmunya, dan juga berkontribusi dan berbagi ke banyak orang. Ini menjadi ajang untuk mendemosntrasikan kemampuan intelektual para teman-teman PhD. Jadi, jika kamu senang di dunia akademik, mulailah jajaki, kamu tuh senangnya di bidang akademik yang mana, senang di penelitian apa, dan kedepannya kamu ingin menjadi expert apa. Empat hal yang aku sebut sebelumnya, semua berfondasi dari alasan ini, karena mereka senang dunia akdemik.

                      Bagi kamu yang sendang mikir-mikir untuk lanjut studi ke program PhD atau tidak, silahkan baca juga tulisan ku yang lain ya: Cerita Perburuan PhD Gratis, Several Things You Should Know about How To Publish a Publication, dan What Should We Do in the Very First Minute of the Day Activities?



                      #latepost Nobar film dokumenter "Jihad Selfie" dgn Mas Noor Huda Ismail (film maker-nya langsung). Durasi 1jam. Panjang leb...



                      #latepost Nobar film dokumenter "Jihad Selfie" dgn Mas Noor Huda Ismail (film maker-nya langsung). Durasi 1jam.

                      Panjang lebar menceritakan tentang "Jihad" bersinya orang-orang di jaringan ISIS. Terdata ada 500 WNI, di dalam jaringan ini. Perekrutan melalui sosmed propaganda. Facebook adalah alat utamanya. Berdasarkan penelusuran, sasaran utamanya adalah remaja-remaja belasan tahun. Usia dimana seseorang sedang mencari jati diri yg beranggapan megang senjata, katakanlah AK 74, itu keren (makanya judulnya "Jihad Selfie". Usia dimana mereka sudah mengenal (bukan memahami) "Jihad", dan obsessed utk ber-"Jihad" (baca: mati konyol).

                      Opini pribadi: film ini sbnrnya lebih bertemakan parenting film. Menjelaskan betapa pentingnya pendidikan keluarga. Goal pasarnya ya orangtua dan remaja-remaja di usia SMA atau fresman di bangku kuliahan Sarjana. Menarik, karena ada beberapa interview thd "pelaku Jihad" yg insyaf dan ada penelusuran lapangan bagaimana proses perekrutan "calon pelaku Jihad". Sangat direkomendasikanlah utk ditonton utk nambah pengetahuan apa motivasi "Jihad" versi "mereka".

                      Si- "Film maker" adalah alumni salah satu pesantren di Indonesia, alumni penerima beasiswa Chevening program Master di UK, dan skrg sedang proses penyelesaian disertasi Ph.D di salah satu university di Australia dgn spesifik konsentrasi riset: "Political violence".

                      Pesan menarik yg bisa disimpulkan setelah adany sesi diskusi ttg Jihad (tanpa tanda petik dua) dgn Mas Noor dan narasumber yg lain adalah:

                      -Jihad bukan untuk mati konyol. Jihad itu tidak untuk mematikan manusia. Jihad itu untuk menghidupkan manusia- — At KBRI Seoul


                      Wooriland Sauna dekat Kwangwoon University I know you're gonna love this story. It is my first experience to have some time at ...


                      Wooriland Sauna dekat Kwangwoon University

                      I know you're gonna love this story. It is my first experience to have some time at Sauna in Korea or called Jjimjilbang. Jadi, yang namanya Jjimjilbang itu adalah jenis dari sauna tradisional-nya Korea. Ini bagian dari adat dan budaya mereka. Kalau kamu sering nonton drama Korea baik yang ber-genre history atau romance, kadang-kadang sauna ini diperlihatkan. Dan kamu gak akan pernah tau gimana sensasinya berada di sauna sini kalau belum mencoba. Seenggaknya itulah yang aku pikirkan. 

                      Well, hampir tiga tahun sudah aku tinggal di Korea, tapi baru kali ini aku bener-bener berani untuk mencoba mengunjungi satu tempat yang memang sangat common di Korea ini. Apa yang membuatku pada akhirnya berani untuk datang ke tempat ini?? Karena aku punya temen yang demen banget nginep di Sauna. Catet Nginep di sauna. 

                      Bukan hal yang aneh lagi kalau kamu datang ke sauna dan kemudian kamu menyaksikan banyak orang yang sedang tiduran di sana, karena memang sauna-sauna di Korea terbuka selama 24 jam. Dan harganya murah-meriah. Jadi sangat cocok bagi kamu yang doyan jalan-jalan dengan budget super-duper miring untuk mempertimbangkan sauna sebagai tempat peristirahatan kamu. Katanya si aman. Salah satu temenku dari USA pernah cerita kalau dia datang ke Seoul dia gak pernah nginep di Hotel atau di Motel atau di gosiwon lah yang katakan kamar termurah di Korea. Tapi dia selalu datang ke Jjimjilbang untuk tidur barang sehari atau dua hari. Gileeeeeh pikirku. Karena memang murah banget kalau dibandingkan harus tinggal di hotel. Di sauna, hanya dengan budget antara 6000~10.000 won, kita bisa tinggal di sauna bermalaman. Loker disediakan. Setiap pengunjung mendapat satu loker pakaian, satu loker sepatu juga, dan ku pikir memang cukup besar lah untuk seukuran tas ransel yang berisi perangkat-perangkat seorang backpacker. Selain murah dan aman, pertimbangan lainnya adalah bersih. Jelas, ini bisa dibilang "kamar mandi" umum, jadi tempatnya sudah bisa dibayangkan bersih dan harum nya seperti apa. Kita bisa lah tidur bareng dengan para pengunjung lainnya di sana atau di beberapa sauna, mereka juga menyediakan ruang tidur yang enggak anget karena suhunya yang di atur sesuai dengan suhu ruangan normal. Tambahan informasi lainnya adalah, terkadang kamu juga dapat jatah makan seperti sarapan. Kece gak sih? haha.

                      Okey, sebelum aku cerita pengalamanku gimana di sauna untuk pertama kali, ini aku upload kan satu video dari youtube yang menggambarkan kurang lebih samalah dengan apa yang aku rasakan. hahaha.. sileh di liat dulu, durasinya pendek kok:




                      Lawak gak sih?? hahahaha
                      Jadi jauh-jauh hari sebelum aku pada akhirnya ke sauna, aku sempet tertarik untuk nonton ini, cuma untuk ngeliat kira-kira akan seperti apa di sana nanti. Kurang lebih si sama yak. Kita datang ke kasir dulu untuk bayar dan dapat tiket masuk ke sauna. Setelah itu, kita masuk ke loker sepatu dan mengambil satu loker yang kosong, jangan lupa dikunci dan bawa kuncinya, karena kuncinya nanti akan dikasih ke salah seorang petugas di sana untuk kemudian diganti dengan kunci loker pakaian di ruangan sauna. Note: kunci loker ruangan ini "diganti" dengan kunci loker yang sama dengan loker sepatu kita. Jadi kebayang dong, klo sepatu kita hilang, berarti salahnya ada di si penjaga kunci. Aman kan?? Oh jangan lupa, tiket! Tiket juga harus dikasi si penjaga kunci tadi. Selain itu, dia juga akan ngasih pakaian ganti kita setelah kita selesai berendam di kolam-kolam anget  panas! Dan semua pakaiannya sama, seragam dengan pengunjung lainnya #grin *anak SD kelees* muehehe..

                      Okay. Jadi aku berdua dengan temen se-Lab ku. Aku juga sebenarnya baru tau kalau di sekitar Kwangwoon University ada Sauna juga. Dia sering tidur di lab dan kadang tidur di Sauna juga. Kali ini aku ikut dia ke Sauna, karena pingin tau. hahaha. Sampailah di loker pakaian dimana aku harus melepas semua pakaianku dan kemudian akan jalan ke lorong yang agak jauh menuju kolam pemandian. Damn pikirku. Asli, berasa malu, aneh, dan aneh banget telanjang di depan umum. Beberapa kali aku tanya ke temen, boleh gak aku koloran aja ke sana, jawabnya santai: ENGGAK! *lontong araaablaaah* Dia santai banget ngelepas satu per satu pakainnya dan steady ready berdiri di depanku tanpa malu dan tidak juga menutupi anunya. Nengok dia without one single string di badannya aku yang jadi malu sendiri. Aku bahkan masih pake koloran aja udah malu, tapi dia nungguin aku untuk buka semua. *SIAL*. Dengan muka badak, aku jadi memberanikan diri untuk yaaaah..... you know laaaaah..... Jadi apa yang kalian saksikan di youtube itu, ya begitulah kami.. hohoho... tolong mingkem klo ketawak!

                      Waktunya berendam!
                      Tapi sebelum berendam, menuju kolam-kolam nya, kan harus jalan ke lorong dulu tuh, di sana ada beberapa orang yang sedang duduk santai sambil nonton. Aiiiissshh... aku pingin kabur rasanya cepet-cepet ke pemandian. Sampai di pemandian, ya sudah, pemandangan yang sama dengan perawakanku, kami semua satu warna. Cokelat dan Hitam-hitam! HAHAH. Aneh??? YA IYALAH ANEH! Bagi orang Indonesia mungkin aneh, tapi bagi mereka Korean kagak tuh. Sudah biasa banget sepertinya. Aku kan bukan Korean kan, jadi ngerasa jadi pusat perhatian gituw. Mereka ngeliatin guweh! Mudah-mudahan bukan karena tertarik yak *na'ujubillahimindjalik*, tapi mungkin karena pembawaanku yang malu-malu kayak lemper kali. hahah. Kami sih awalnya mandi pake shower dulu pakai air yang anget terus sabunan dan gosok-gosok badan lah untuk pemanasan, kemudian baru berendam dan mecoba satu kolam ke kolam yang lainnya. Kolam yang pertama kali ku coba adalah kolam dengan suhu 34 derajat celcius, di sini asik banget. Rasanya pingin merem, refreshing banget. Sumpeh deh. Terus temen ngajak pindah ke kolam-kolam yang lebih panas, seperti 37 derajat, 39 derajat, dan 43 derajat. Anjirrrrr! Kolam yang terakhir memang ampun Panasnya. Kurang lebih sekitar 30 menitan lah kami berendam. Terus kami memutuskan untuk sudahan, dan berpakaian lengkap menuju ruang-ruang sauna. Nah, di ruangan sauna inilah aku menyaksikan manusia-manusia berumur tergeletak dan merem santai di sana. Iya sih, setelah berendam tengah malem, memang enaknya ya langsung merem sih. hohoh. Tapi aku masih penasaran sama sauna-sauna nya. Aku coba mulai dari suhu-suhu tinggi, kemudian memutuskan untuk stay agak lama di ruangan sauna yang suhurnya paling rendah! CEMEN! hahah. Panas loh itu ruangan. Klo gak kuat bisa dehidrasi. 

                      Sekitar jam 2 pagi, aku memutuskan untuk pulang. kurang lebih satu jam setengah sahaja saya bertahan di sana. ketepatan kita ke lokasi sauna memang agak malem, jam 12.30an malem. Karena si kawan memang berencana tidur di sauna. Aku sih di ajak, tapi emmoh! rumah dekat ginih dari saunanya. ya mending tidur di kasur empuk hahaha. busuk ati. Begitulah pengalaman aneh di Sauna pertamaku. Norak yak? biar aja lah. haha. Beberapa dokumentasi jeleknya ada nih berikut inih:

                      Ruangan Sauna, beberapa orang bergelempangan di sini.

                      Nomer kunci loker pakaian sama dengan nomer kunci loker sepatu. Catet!

                      Ukuran dari loker-loker pakaian di sini. Lumayan gede' kan yak? Aman lagi.

                      Ruangan sauna, suhu terendahnya adalah 58 derajat celcius

                      Ruangan sauna. Suhu tertinggi 71 derajat celcius, berasa megap-megap masuk di sini

                      Di dalam ruangan sauna bersuhu 58 derajat

                      Di dalam ruangan sauna bersuhu 58 derajat

                      Salah satu penampakan penunggu ruangan sauna bersuhu 58 derajat. huhahaha

                      Berikut adalah pengalaman pribadi ku yang memang telah merasakan manfaat dari sebuah asuransi kesehatan di Korea. Alhamdulillah, sejau...







                      Berikut adalah pengalaman pribadi ku yang memang telah merasakan manfaat dari sebuah asuransi kesehatan di Korea. Alhamdulillah, sejauh ini aku merasakan diriku masih dalam keadaan sehat dan bahkan bisa dibilang jarang banget sakit. Sejak sekolah dulu, hampir bisa dibilang aku gak pernah izin sekolah karena alasan sakit. Seingat aku yaa. Jadi karena alasan itu, aku ngerasa kebutuhanku akan yang namanya asuransi kesehatan itu jadi gak begitu penting. Ya untuk apa aku bayar per bulan tapi gak pernah ku pakai karena alasan sakit dan sejenisnya. Iya dong, uang jajan jadi berkurang karena harus bayar asuransi per bulan yang memang gak murah. Belum lagi, babeh ku gak ngasih uang tambahan untuk asuransi ini, jadi mau gak mau, living cost ku bertambah. Tapi itu dulu, sebelum universitasku memaksa semua mahasiswa internasional di Kwangwoon University harus memiliki asuransi kesehatan. 

                      Istilah “memaksa” ini memang sangat berkerja untukku. Walau babeh tetep gak ngasih uang tambahan, tapi pada akhirnya aku jadi punya asuransi kesehatan juga. Haha. Manfaatnya banyak banget ternyata. Jadi, di Korea, ada banyak jenis asuransi kesehatan. Ketepatan, kampusku menganjurkan setiap mahasiswanya untuk punya asuransi dengan National Health Insurance Korea. Per bulan aku harus bayar sekitar 46,000 won. Cukup mahal untuk hitungan mahasiswa. Sejak punya asuransi, aku jadi rajin control kesehatanku ke rumah sakit atau klinik-klinik terdekat. Bahasa medannya jadi Mentel lah. Sakit dikit ke rumah sakit, pegel-pegel dikit karena lari tetep juga ke rumah sakit. Well, murah sih jadinya biaya berobatnya.. hehe

                      Manfaat yang bener-bener terasa ya di dua bulan terakhir inilah. Pertama, aku pergi ke klinik terdekat untuk cabut gigi. Aku kira awalnya mahal untuk cabut gigi, tapi ternyata health insurance meng-cover biaya perobatanku. Cabut gigi+bersihin gigi klo gak salah kena sekitar 30ribuan won, itu sudah termasuk control setelah pencabutan gigi ya. Kemudian yang baru-baru ini aku jalani adalah operasi wasir. Iya wasir.. kalau seandainya aku gak punya asuransi kesehatan, semua dana perobatan untuk wasir ini bisa mencapai sekitar sejuta seratus ribu sekian won. Dan asuransi memotong lebih dari separoh biaya operasi, control, obat, dan penginapan 3 hari di RS jadi 340ribu won. Keren gak?

                      Memang bener terkesan mahal untuk bayar per bulan biaya asuransi itu, tapi ketika kita membutuhkan dana perobatan, Cuma asuransilah yang siap menolong kita  untuk membayar biaya perobatan dengan sangat meriah murah. Point yang mau aku bilang ditulisan ini adalah, sekalipun kamu ngerasa gak pernah sakit, jadikan asuransi sebagai pem-back-up biaya kesehatanmu. Asuransi penting. Pada saatnya kamu akan tau kapan harus menggunakannya. Intinya jangan males aja datang ke rumah sakit. Jangan sok kuat, wong strong woman atau batman dan superman aja masih butuh rumah sakit kok. #halah. Hahaha

                      I just watched a movie called Agora released in 2009. It is a historical drama film directed by Alejandro Amenabar and written by ...




                      I just watched a movie called Agora released in 2009. It is a historical drama film directed by Alejandro Amenabar and written by Amenabar and Mateo Gil. Agora is actually a central place in an Ancient Greek city that has literal meaning as a ‘Gathering Place’. If you search by googling word Agora, you can find a description about Agora from Wikipedia which Agora was the center of athletic, artistic, spiritual, and political life of the Ancient Greek city. The movie took a place in this Agora (or mentioned as a library in the movie) and told about the Ancient Greek people that live with three different faiths: Pagan, Christian, and Jews. So basically it is about religions and science.


                      Let me bring you to be a bit bias of me for this. I have been in friend with a Paganist from Span since I lived in Seoul. We met once in a conference and unintended having some conversations about Paganism and Muslim. Poor me knew nothing about Paganism as a religion, and even I didn’t know Pagan in a word, but lucky me met him. So, according to what his telling me about the Paganism, many years ago, Paganist was used to be called as a witch and be killed by Christian. And for all I know, a witch is usually a woman having a supernatural power with her at first. But not until I watch the Agora movie. In Agora movie, a Paganist is a person who has faith in philosophy. Just a person who has curiosity to the philosophy power not the supernatural. A paganist in that movie is used to spend the entire of life in learning, thinking, and finding a philosophy about living and non-living things, or anything in this universe. Then makes a theory, concepts, or philosophy about it. One more thing, Pagan people are always illustrated as a wealthy group that have slaves and always wear great clothes.


                      A female named Hypatia played by Rachel Weisz is a mathematician, philosopher, and astronomer in late 4th-century in this movie. She investigates the flaws of the geocentric Ptolemaic system and the Heliocentric model that have always challenged herself. And she is a Paganist. She teaches and shares her knowledge to several men interested in her group discussions, but only until a riot between Paganists and Christians happened, and Agora ruins due to this. So what next? The Paganists that are used to research and study at Agora leave that place and move to new place out of city. And Hypatia keeps doing her curiosity till that day comes when she is called a ‘witch’ by a bisop and his Christian followers.


                      I am not sure why a Paganists is then called as a witch in the real life. But according to this movie, it is due to the curiosity of life and philosophy of live that they fight for. Then I finish with a conclusion that a Paganist is called a witch because they are quite smart in their argumentation and high philosophy stuffs.






                      I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then...

                      I am actually now trying to be more productive in my studies. So, these days I am still looking for to find a best formula into it. Then I found an article called ‘How the Most Productive People Start Their Work Day’ from greatist.com. It is true that what we do when we are starting our day to get to the office sets the tone for the rest of our day. I usually get bored with works that I even don’t know which, what, and how to start first with. Learning how to make priority on what I will do first might help me to run away from non-concentrate condition.

                      The article tells me that a to-do list activity can improve our productivity in a day. In this state, a to-do list is a map for one full-day that we’ve drawn it every night before bedding. And mostly people will do an email checking for the very beginning activities. And that’s a huge mistake, says Julie Morgenstern in her books called Never Check Email in the Morning. But the same with me, I am doing it every day before I know that what I have done is wrong. The only reason is due to checking email is a reaction needed activity. That means that once we open an email, we will need extra time to read, or even to write text in order to reply it. So the real question is: What exactly should we be doing? To get answers, greatist.com asked super successful people killing it in business, fitness, and life in general what they do to be productive (and resist the siren call of their inbox) the second they step foot into work. The following information is the answers from those successful people quoted from greatist.com:
                      1. Trap your anxieties on paper.
                      “The first thing I do when arriving at 'work' (which is usually my wooden table next to a living wall in my house) is journal. I use a notebook like The 5-Minute Journal to clarify my goals and priorities for the day, as well as perform a basic gratitude exercise. If I'm feeling ambitious, I'll drink pu-erh tea [a type of fermented dark Chinese tea] and free-associate for another two or three pages in a separate notebook. This often allows me to trap my anxieties on paper so I can be more productive with less stress throughout the day.” — Tim Ferriss, author of The 4-Hour Workweek and host of the podcast The Tim Ferriss Show

                      2. Get your energy up with some movement.

                      “The first thing I do is take a walk. (We just got a new puppy!) Then I spend the next hour checking all my social media. I know experts advise that we don’t waste our morning alertness on low-value work like email and checking Twitter, but I know that I can’t focus on more challenging work until I’ve checked in on all the various forms of communication.” — Gretchen Rubin, author of The Happiness Project and Better Than Before

                      3. Go over your to-do list.

                      “The very first thing I do—even before I power on my computer—is enjoy a cup of coffee while reviewing my to-do list, which I make before going to bed every night. This helps me get pumped and organized. After that, I’m ready to take on the day!” — Joy Bauer, R.D.N., nutrition and health expert on NBC’s Today Show and founder of Nourish Snacks

                      4. Do quick check-ins with team members.

                      “The first thing I do is say a quick hello and check in with one or two members of my team. It's important to me because it helps me start the day on a happy, positive note, and it lets me take the temperature of our group. Plus, it's a good thing for overall productivity as creative teams run on good personal relationships and positivity. And in the event something is off or tense, it gives me a chance to find out what's up before things go off the rails. Mostly, though, I just do it because I enjoy it. I am lucky to work with great people who are a lot of fun to be around.” — Pilar Gerasimo, founder of Experience Life magazine and author ofBeing Healthy Is a Revolutionary Act

                      5. Complete the task that requires the most mental focus.

                      "I pour a cup of coffee and get to work writing. I'm fierce about not letting anything interrupt that time. I write for two or three hours and then go to the office for meetings or teaching or student appointments. If I write every day, even for just an hour, there's a momentum that works for me. I can just pick up where I left off. I don't write quickly, but the consistency makes it all add up.” —Marion Nestle, Ph.D, professor of nutrition at NYU and author of forthcoming book, Soda Politics

                      6. Make (and use!) a really effective calendar.

                      “The first thing I do in the morning is check my calendar. It is far more effective than a to-do list. This approach radically reduces the number of decisions I have to make every day because I don't have to decide what to do. I just do it. The calendar also has something called buffer days where I handle small things, focus days where I do things that matter the most, and free days where I do whatever I feel like that isn't work. This is the only way I've found that makes sure I get time for myself, for family and friends, and for my company.” — Dave Asprey, creator of Bulletproof Coffee and author of the forthcoming Bulletproof: The Cookbook

                      7. Hydrate... with a kick.

                      “We have a morning trifecta that works like a charm each day to make us feel alert, connected, and energized as soon as we hit the office. First, we always check in with our team, face-to-face. This interaction in the morning grounds us and connects us to our purpose as a united, productive team. Second, we prep our desks with huge mason jars of water. That way, once we sit down, we can be productive without interruption. Plus, getting hydrated first thing in the morning gives us energy and keeps us healthy. Finally, we sip on a little caffeine, like coffee or tea, for a little boost.” —Kirsten Potenza and Cristina Peerenboom, creators of the POUND workout and the POUND Rockout Results System

                      8. Express gratitude for who (and what) is working.

                      “I like to start my day with a little gratitude. I walk all the way through the office to the kitchen at the back and say hello to the people on my incredible team, making sure to let each one know how much I appreciate them!” — Kathryn Minshew, founder and CEO of The Muse


                      What about you…? I am not sure if there is any people who read my blog. But, anytime you cross by to this page, would you like to share what you do in the very first day of yours? Please write your story in the comment.